Wednesday, January 26, 2011

Jiwa Enterpreneurship Nabi Muhammad SAW (Bukan bermaksud sara hanya ingin berbagi untuk direnungi)

Pagi-pagi buta ini saya searching di web dan iseng mengunjungi web forum terbesar di Indonesia, saya menemukan postingan yang sangat menarik. Ini mengenai jiwa wirausaha Rasulullah SAW. Saya bukan bermaksud sara dengan mengangkat topik ini. Tapi saya ingin berbagi dan ingin memberikan pemahaman bahwa negara kita yang mayoritas muslim ini tapi kebanyakan penduduknya "ingin" menjadi karyawan. Padahal Nabi Muhammad SAW adalah enterpreneur sejati. Dan Anda pasti ingat bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Menjadi karyawan adalah pilihan, tetapi bukankah lebih bermakna bila kita bisa menjadi "tangan yang diatas"? Dalam artian Andalah yang membuka peluang-peluang untuk orang lain. Bukan menjadi "tangan di bawah" dalam artian menerima gaji saja. Saya tidak bermaksud menyinggung siapapun, karena hidup adalah pilihan. Saya sangat menghormati rekan-rekan yang memilih menjadi karyawan. Tapi semoga postingan ini bisa menjadi bahan pertimbangan dan renungan. Sekali lagi apapun pilihan Anda, saya sangat menghargai. Yuk kita baca uraian di bawah ini bersama-sama:
Dari beberapa literatur yang didapat, betapa jiwa entrepreneurship Rasulullah di bidang wirausaha begitu mendominasi, sehingga beliau berkembang menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa entrepreneur, dan keterampilan manajemen yang baik untuk mengelola sebuah dakwah, sebuah sistem yang bertata nilai kemuliaan Al Islam.
Pada waktu Rasulullah masih kecil, beliau sudah mempunyai sebuah proyek untuk menjaga kehormatan harga dirinya agar tidak menjadi beban bagi kehidupan ekonomi pamannya, Abu Thalib, yang memang tidak tergolong kaya. Beliau mendapat upah dari menggembalakan beberapa ekor kambing miliki orang lain, yang secara otomatis mengurangi biaya hidup yang harus ditanggung oleh pamannya ini. Pada usia 12 tahunan, sebuah usia yang relatif muda, beliau melakukan perjalanan dagang ke Syiria bersama Abu Thalib. Beliau tumbuh dewasa di bawah asuhan pamannya ini dan belajar mengenai bisnis perdagangan darinya. Bahkan ketika menjelang dewasa dan menyadari bahwa pamannya bukanlah orang berada serta memiliki keluarga besar yang harus diberi nafkah, Rasulullah mulai berdagang sendiri di kota Mekkah. Bisnisnya diawali dengan sebuah perdagangan taraf kecil dan pribadi, yaitu dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya kepada orang lain.
Aktivitas bisnis lainnya dengan sejumlah orang di kota Mekkah pun dilakukan. Dengan demikian ternyata Rasulullah telah melakukan aktivitas bisnis jauh sebelum beliau bermitra dengan Khadijah. Dan inilah yang membuahkan pengalaman yang tak ternilai harganya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan pada diri Rasulullah. Ciri yang sangat khas dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah waktu itu adalah beliau sangat terkenal karena kejujurannya dan sangat amanah dalam memegang janji. Sehingga tidak ada satupun orang yang berinteraksi dengan beliau kecuali mndapat kepuasan yang luar biasa. Dan ini merupakan sebuah nuansa dengan pesona tersendiri bagi warga Jazirah Arab. apalagi kemuliaan akhlaknya seakan menebarkan pesona indah kepribadiannya. Pun ketika beliau tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri, ternyata beliau banyak menerima modal dari orang-orang kaya Mekkah yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka, dan menyambut baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang mereka miliki berdasarkan kerjasama. Tiada lain karena sejak kecil Rasulullah telah dikenal oleh penduduk Mekkah sangat rajin dan penuh percaya diri. Dikenal pula oleh kejujuran dan integritasnya dibidang apapun yang dilakukannya. Tak berlebihan bila penduduk Mekkah memanggilnya dengan sebutan Shiddiq (jujur) dan Amin (terpercaya). Salah seorang pemiliki modal itu adalah Khadijah, yang kelak menjadi istri beliau, yang menawarkan suatu kemitraan berdasarkan sistem bagi hasil (profit sharing). Dan, subhanallaah, kecakapan Rasulullah dalam berbisnis telah mendatangkan keuntungan, dan tidak satupun jenis bisnis yang ditanganinya mendapat kerugian. Selama bermita dengan Khadijah inilah Rasulullah telah melakukan perjalanan dagang ke pusat bisnis di Habasyah (Ethiopia) dan Yaman. Beliau pun empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash.
Diantara hal yang terus menerus harus kita teladani dari Rasulullah dalam interaksi bisnisnya adalah beliau sangat menjaga nilai-nilai harga diri, kehormatan, dan kemuliannya dalam proses interaksi bisnisnya ini. Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu mejaga kehormatan diri. Sehingga keuntungan apapun dari setiap transaksi yang beliau dapatkan, maka kemuliaannya justru semakin menjulang tinggi. Semakin dihormati, semakin disegani dan ini menjadi aset tak ternilai harganya yang mendatangkan kepercayaan dari para pemilik modal. Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang menjadi pengusaha sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu apapun, ternyata jiwa entrepreneur ini harus dikembangkan sejak awal.
Pembangunan harga diri, pembangunan etos kerja, pembangunan karir kehormatan sebagai seorang jujur yang terbukti teruji dan sangat amanah terhadap janji-janji, jikalau hal ini ditanamkan, dilatih sejak awal maka akan membuahkan kepribadian yang sangat bermutu tinggi dan ini menjadi bekal kesuksesan bekerja dimanapun atau kesuksesan mengemban amanah jenis apapun. Dan yang paling perlu digaris bawahi, Rasulullah SAW mengadakan transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi, tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk didistribusikan ke sebanyak umat. Sehingga kesuksesannya mampu membawa banyak dampak positif, yaitu kesuksesan dan kesejahteraan bagi umat yang lainnya. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian junjungan kita, Rasullah SAW begitu monumenatal, baik dalam mencari nafkah maupun dalam menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.

Sunday, January 23, 2011

Kisah Tukang Becak (Inspiratif untuk semua)

Tukang Becak Berpenghasilan 9 juta/bln

Sumber: Wirausaha&Keuangan, Edisi 54/2007

Coba kita lupakan segenap teori canggih dunia marketing maupun teori tentang punya bisnis sendiri. Sementara banyak orang yang masih harus bergelut dalam kesibukan marketing/kesibukan bisnis setiap hari setelah 10 tahun bekerja atau berbisnis, mari kita simak kisah ilustrasi seorang tukang becak tamatan SD yang sudah mencapai ”financial freedom” setelah bekerja hanya + 5 Tahun saja, dengan ”pasif income” Rp9 juta/bulan. Ikuti jalan aliran bisnisnya.

Becak pertama. Seorang tukang becak motor berpenghasilan bersih Rp60 ribu/hari. Biaya hidupnya + Rp30 ribu. Lalu ia berjuang untuk konsisten menabung Rp30 ribu/hari. Dalam tempo 400 hari, ia mampu membeli becak kedua yang harganya Rp12 juta/unit. Becak kedua, ia sewakan dengan tarif Rp30 ribu/hari. Sekarang ia bisa menabung Rp60 ribu/hari. Dalam tempo 200 hari ia mampu membeli becak ketiga. Begitu seterusnya ia lakukan dalam mengelola bisnisnya, hingga ia mampu membeli becak ke sepuluh dan ia pensiun. Kini ia menikmati penghasilan Rp300 ribu/hari, atau Rp9 juta/bulan. Jika ditotal semua usahanya tsb hanya dicapai dalam tempo 3,2 tahun saja. Ini LOGIS dan bisa TERJADI.

Sekarang bandingkan dengan banyak profesional tamatan S1 ataupun S2, atau bandingkan dengan para pengusaha yang masih harus bergelut dengan kesibukan mencari nafkah setiap hari. KONTRAS SEKALI bukan.

Ternyata kunci suksesnya terletak pada bagaimana kita mampu menduplikasi bisnis. RAHASIANYA: jalankan bisnis yang mudah diduplikasikan, dan tidak perlu keterlibatan kita secara penuh dalam bisnis tersebut. Contoh: ikuti bisnis franchise yang berpotensi, beli asset lalu sewakan asset tsb, dsb.

Bayangkan seorang marketer jenius/pebisnis jenius sekalibur Schultz (ia baru dijuluki jenius setelah sukses, tetapi saat pertama kali menawarkan ide bisnis menjual secangkir kopi seharga puluhan ribu rupiah, ia diteriaki gila dan ditolak ratusan orang). Kini hasilnya luar biasa, kedai kopi pertama (Starbucks) yang dibangun Schultz tahun 1985, menjelma menjadi lebih dari 10.000 lebih toko di tahun 2007, dan tersebar di seluruh dunia. Dan terus berlipat ganda setiap tahun sampai sekarang. ANDA pun BISA.

Pikirkan BISA dan anda pasti BISA ..!!

Seekor gajah yang diikat kakinya sejak kecil dengan seutas rantai sepanjang 4 meter, ketika dia dewasa dia tidak akan melangkah keluar dari area lingkaran 4 meter walaupun rantainya sudah diganti dengan seutas benang. Itu bukan cerita, itu kisah nyata.

Kita sebagai manusia yang berakal budi ternyata juga mengalami trauma yang sama. Teman saya sejak kecil tidak berani mengendarai sepeda, ketika kami remaja dan suka keliling kota dengan sepeda motor, dia selalu dibonceng teman lainnya, setelah kami dewasa beberapa teman mulai memakai mobil untuk aktivitasnya, tapi teman saya itu tetap tidak berani mengendarai apapun.

Anda jg pasti punya teman yg tidak pernah mau mencoba mengendarai sepeda/sepeda motor, apalagi mobil, selalu takut & merasa bahwa mengendarai motor atau mobil adalah sesuatu yg sangat sulit. Istri teman saya bisa mengendarai mobil, setiap hari dia menggunakan mobil untuk antar jemputnya ke dan dari sekolah, tapi dia hanya berani

menggunakannya di dalam kompleks ( Kelapa Gading Jakarta ), selama lebih dari 5 tahun tidak pernah sekalipun dia berani mengendarai mobil keluar dari Kelapa Gading.

Suatu hari anaknya sakit dan masuk rumah sakit di Sunter diluar Kelapa Gading, dan suaminya sedang tugas di luar kota. Terpaksa dia mengendari mobilnya pergi ke rumah sakit tersebut, dan sejak saat itu dia berani mengendarai mobilnya kemana saja, termasuk pulang pergi ke bandung.

Ada staff di bagian keuangan yang sudah bekerja 5 tahun, tidak pernah bisa meraih promosi jabatan karena disana adalah jabatan fungsional yang buntu dengan jenjang karir, ketika saya tawarkan jabatan di bagian marketing, dia tidak berani mengambilnya karena merasa tidak mampu menjadi orang marketing.

Ada seorang salesman yang sudah bekerja 10 tahun, prestasinya bagus, disegani teman temannya, bahkan jadi tempat bertanya atasannya. Ketika ditawari jabatan supervisor dia menolak karena dia takut dengan pekerjaan administrasi dan takut kalau nanti suatu hari naik lagi jadi distrik manager yang sarat dengan tugas tugas di atas meja, dia merasa tidak bisa mengerjakan pekerjaan adminitrasi.

Dear teman2 sekalian, coba anda lihat diri anda sendiri, adakah seutas benang yang memhambat diri anda saat ini? Putuskan benang itu, bergeraklah maju lebih dari lingkaran yang selama ini mengurung anda.

Anda pasti bisa kalau anda berpikir anda bisa, anda akan gagal kalau anda selalu berpikir anda akan gagal. Peluang demi peluang muncul setiap hari, dan karena selama ini anda menutup mata anda, telinga anda, pikiran anda, diri anda, hidup anda, maka peluang itu menjadi bukan peluang, lewat begitu saja.

Mulailah melangkah sedikit demi sedikit kalau anda masih gamang, lalu berlari cepat setelah anda lebih yakin lagi. Jangan sia siakan setiap peluang untuk maju, untuk berhasil, demi diri anda sendiri

Tuesday, June 10, 2008

Konflik Itu Perlu

Konflik Itu Perlu

TPGImages

Rabu, 4 Juni 2008 | 09:31 WIB

LO, KOK ? Soalnya, konflik membuat hubungan suami-istri makin berkembang dan maju. Yang penting bagaimana mengelola konflik tersebut.

Jangan percaya bila ada pasangan yang mengaku tak pernah konflik. Karena yang namanya perkawinan, akan senantiasa diintai oleh konflik, dari konflik kecil hingga besar. Soalnya, suami-istri itu merupakan dua pribadi yang berbeda. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai keinginan dan sikap yang berbeda. Misi, tujuan, dan visi perkawinan mereka juga berbeda. "Nah, perbedaan-perbedaan ini merupakan unsur yang bisa menimbulkan konflik," ujar Ieda Poernomo Sigit Sidi.

Tak masalah apakah pasangan tersebut sudah berpacaran dalam waktu lama sekalipun, "konflik tetap saja akan muncul," lanjut Ieda. Karena begitu memasuki perkawinan, kedua pribadi yang berbeda ini akan dipertemukan. "Nah, pada waktu bertemu itulah bisa saja aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari menimbulkan konflik," tambah psikolog wanita, anak, dan keluarga ini. Maklumlah, setelah menikah orang biasanya baru tahu semuanya, termasuk segala hal yang jelek dari pasangannya. Makanya, nggak aneh lagi kalau kemudian timbul konflik.

Jenis Konflik

Perlu diketahui, segala hal bisa menjadi pemicu timbulnya konflik dalam perkawinan. Soal selera, misalnya. Suami tak suka sayur lodeh tapi malah sayur itu yang sering dimasak oleh si istri lantaran ia suka. Terang dong si suami kesal, "Sudah tahu aku enggak suka sayur lodeh, tapi kok masih kamu suguhkan juga?"

Begitu juga soal pengaturan waktu pada suami-istri, baik waktu di dalam maupun di luar rumah. Misalnya, "Saya sudah pulang, tapi kok kamu belum pulang. Berapa kali dalam seminggu kamu meninggalkan rumah di akhir pekan?" Belum lagi soal pengasuhan anak yang berbeda, "Apalagi jika masing-masing merasa dirinya benar, paling tahu, paling bisa menjanjikan kesuksesan buat anak," kata Ieda.

Demikian pula dalam hal berhubungan seks, mulai soal tempat tidurnya sampai ke cara-cara berhubungan. Bahkan, bentuk komunikasi di antara suami-istri pun bisa menimbulkan konflik. "Kita berkomunikasinya dengan cara bagaimana? Apakah mengatakan semua apa yang kita simpan atau hanya diam saja, memendam semua di dalam hati? Hal ini bisa menimbulkan konflik karena satu sama lain tidak cocok."

Bagaimana tanggapan si pasangan terhadap perbedaan-perbedaan tersebut juga bisa menimbulkan konflik. Misalnya, dia "telan" saja apa yang ada dengan pikiran, "Memang sudah nasib saya begini." Atau, malah dia cari makanan di luar, misalnya, dan makanan di rumah enggak "disenggol" sama sekali. "Nah, itu, kan, konlik lagi!" tukas Ieda.

Yang pasti, semakin luas perbedaan di antara suami-istri akan semakin memungkinkan munculnya konflik-konflik besar, sehingga usaha suami-istri untuk mempertemukan persepsi, visi dan misi dalam membina rumah tangga menjadi lebih besar lagi. Itulah mengapa Ieda kerap menganjurkan untuk mencari pasangan se-level agar tak terlalu jauh "jurang" perbedaannya, sehingga konflik yang muncul pun tak terlalu tajam.

Namun begitu, bukan berarti kita salah pilih pasangan bila kemudian konflik datang bertubi-tubi. Karena dengan siapapun kita menikah, toh, tak menjamin perkawinan kita bakal terbebas dari konflik. Iya, kan! Yang sering terjadi adalah, kita salah duga atau salah niat, begitu kata Ieda. Misalnya, "Biarin, deh, nanti kalau sudah kawin ia juga akan sadar dengan sendirinya." Padahal, tidak demikian. Karena, terangnya, "karakter seseorang sudah terbentuk hingga ia dewasa dan menikah." Selain itu, "Setiap orang mempunyai hak untuk menjadi dirinya sendiri."

Mengelola Konflik

Lantas, bagaimana, dong? "Ya, suami-istri harus berusaha mempertemukan karakter yang berbeda itu," tukas Ieda. Dalam bahasa lain, kita harus bisa mengelola konflik yang ada dengan baik. "Suami-istri harus melihat konflik sebagai suatu titik yang menunjukkan adanya perbedaan, dan oleh karena itu ada yang harus dipertemukan, disepakati, serta dipahami bersama-sama. Dengan demikian, konflik tersebut ibarat tumpukan batu bata yang ditata untuk menjadi sebuah bangunan kokoh," tuturnya.

Jadi, tandas Ieda, suami-istri, khususnya pasangan muda, tak perlu takut dengan adanya konflik yang muncul dalam rumah tangga. "Justru dengan adanya konflik akan membuat suami-istri menjadi berkembang dan maju. Mereka akan menjadi semakin matang." Karena konflik adalah fundamen untuk membentuk rumah tangga. Dengan demikian, suami-istri akan mampu bertahan terhadap goncangan lain yang lebih besar.

Nah, agar kita bisa mengelola konflik dengan baik, maka kita harus membicarakan perbedaan yang ada dengan pasangan. "Tapi sebelum membicarakannya kita harus lihat situasi dan kondisinya dulu, apakah memang bisa dibicarakan pada saat itu ataukah perlu waktu dan tempat khusus untuk membicarakannya?" Ieda mengingatkan. Soalnya, kita, kan sedang berusaha mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda. Sementara dalam situasi konflik kita biasanya tengah dilanda emosi. Nah, biasanya kalau orang lagi emosi, apa saja bisa keluar sehingga persoalan bisa merembet-rembet ke mana-mana. Kalau sudah begitu, bukannya menyelesaikan masalah malah mempertajam masalah. Iya, kan!

Untuk itu, saran Ieda, sebaiknya yang berkepala dingin harus membantu yang sedang panas. "Namanya pasangan, maka keseimbangan harus tetap dijaga." Misalnya, "Tadi aku telepon kamu ke kantor, kok, kamu enggak ada. Ke mana, sih?" Bila reaksinya malah meledak, tanggapilah dengan kepala dingin, "Aku cuma tanya, kok. Ya, sudah kalau kamu enggak suka menjawabnya." Nanti, setelah keduanya tenang dan mesra, bicarakan kembali masalah tersebut, "Tadi aku cuma tanya, tapi, kok, kamu marah. Jadi bagaimana sebaiknya agar kamu enggak marah?" Dengan begitu, masing-masing jadi belajar untuk saling memahami.

Tapi jangan mentang-mentang harus memperhatikan situasi dan kondisi, lantas konflik tersebut disimpan dalam waktu lama. Karena kalau terlalu lama, pasangan Anda akan heran dan lupa pada masalah tersebut, "Kok, baru sekarang dibuka?" "Cukuplah sehari atau dua hari hingga seminggu ditundanya," kata Ieda. Sambil Anda mencari waktu penyelesaian kala pasangan Anda sedang dalam situasi emosi yang enak, tak menunggu sesuatu atau mengerjakan sesuatu.

Memang, diakui Ieda, pasangan muda cenderung lebih mudah meledak. "Saya kira karena faktor emosi. Karena kalau pemahaman, sampai berapa puluh tahun pun setiap pasangan harus belajar terus dalam memahami pasangannya. Jangan lupa, manusia itu dinamis, berkembang terus, sehingga sikap pasangan Anda 5 tahun lagi belum tentu sama dengan yang sekarang." Karena itulah yang diperlukan adalah kemampuan pengendalian emosi.

Harap dipahami, lanjut Ieda, keluarga kita mungkin bisa memahami dan tak protes dengan ekspresi kemarahan kita. Entah itu dengan cara meledak-ledak atau bungkam 1000 bahasa dan mengunci diri di kamar. Tapi ketika kita memasuki perkawinan, pasangan kita belum tentu terbiasa dan mengerti bahwa kita itu kalau marah seperti itu, dan dia pun belum tentu bisa menerima. "Jadi, kita harus menyadari dulu, apakah kebiasaan kita marah tersebut merugikan diri kita dan orang lain atau tidak. Dengan adanya kesadaran tersebut, maka bisa ada perubahan. Kalau tidak, ya, jangan harap akan ada perubahan."

Bila kita tetap ngotot, misalnya, "Ya, terserah. Pokoknya beginilah cara aku marah. Sejak dulu juga aku memang begini. Siapa suruh kamu mau jadi pasanganku!", menurut Ieda, sebaiknya tak usah kawin saja. "Yang namanya perkawinan itu membutuhkan penyesuaian. Masing-masing pihak harus berusaha untuk saling menyesuaikan. Jangan cuma maunya membawa caranya sendiri," tuturnya.

Tentunya pihak yang lain harus memberi kesempatan kepada pasangannya untuk berubah. Jangan malah menuntut agar pasangannya berubah dalam sekejap, karena tak ada orang yang bisa berubah dalam satu waktu. "Jadi, bicarakanlah berdua dan buatlah kesepakatan bersama." Misalnya, "Oke, kalau aku mulai ngomong keras atau teriak-teriak, kamu ingatkan." Si pasangan pun, "Oke, jadi kalau aku kasih isyarat telunjuk di bibir berarti kamu harus mulai memelankan omongan kamu, ya. Dan kamu tidak boleh marah karenanya." Nah, hasilnya akan enak bukan?

Cari Pihak Ketiga

Bila konflik dapat diselesaikan dengan baik, lanjut Ieda, hubungan suami-istri akan bertambah dekat. "Timbul wawasan baru pada salah satu pihak bahwa pasangannya, 'Oh, begitu, toh, kamu itu.' Ia jadi lebih mengenal pasangannya sehingga membuang prasangka-prasangka yang ada." Tapi kalau tak terselesaikan, apalagi kedua-duanya ngotot dengan maunya sendiri, maka akan merusak perkawinan.

Selain itu, masing-masing pihak juga harus introspeksi diri agar konflik tak terus-menerus terjadi pada kasus yang sama. Dari sini bisa diketahui, apakah selagi konflik terjadi, kita memberikan kontribusi untuk mendekatkan atau malah merusak. Kalau kontribusinya merusak, ya, nggak heran jika konfliknya mengenai yang itu-itu lagi.

Jadi, tandas Ieda, bila ada konflik, "Anda harus lihat, mengapa konflik itu bisa terjadi? Pahami latar belakangnya, kemudian tarik ke depan, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik itu? Anda mau ngotot terus atau diselesaikan."

Bila ternyata konflik tersebut tak bisa diselesaikan berdua, saran Ieda, carilah pihak ketiga untuk mendapatkan masukan. "Lebih baik konselor perkawinan. Selain profesional, ia juga tak ada ikatan emosional apa-apa." Lagipula, dengan menghubungi konselor perkawinan, disamping dapat membantu menyelesaikan konflik, juga dapat membantu untuk mengembangkan kemampuan kita dalam me-manage konflik.

Penulis : Indah Mulatsih


Print
Email

Sunday, June 8, 2008

Bila Rasaku Ini Rasamu

Akhirmya band favoritku ngeluarin hits terbarunya!! Well, seperti biasa lagunya dalem..... Hiks... Sebagai fans (ceileeee..) aku naro lirik terbaru mereka disini.. This song called:

Bila Rasa Ini Rasamu

Aku memang terlanjur mencintaimu
Dan tak pernah ku sesali itu
Seluruh jiwa rela ku serahkan
Mengenang janji setiaku

Kumohon jangan jadikan semua ini
Alasan kau menyakitiku
Meskipun cintamu tak hanya untukku
Tapi cobalah sejenak mengerti

Reff:
Bila rasaku ini rasamu
Sanggupkah engkau menahan sakitnya
Terkhianati cinta yang kau jaga

Coba bayangkan kembali
Betapa hancurnya hati ini kasih
Semua telah terjadi

Back to Reff:

Aku memang terlanjur mencintaimu

Thursday, June 5, 2008

Buat Mama...

Mah.. Ini aku tulis buat seseorang yang biasa aku panggil mama.. Mungkin orang lain manggil bunda, mami, mom, or laen laen..
Aku cuma pengen bilang... dan nanya.. Boleh gak sih Aku punya keinginan sendiri?? Umurku udah 25 mah... Mama pasti tahu yang aku maksud.. Bolehkah aku memilih sendiri perempuanku? Pendamping hidupku? Mah... aku yakin dengan pilihanku itu gak akan mengurangi sedikiiiiitt pun rasa cinta aku pada mama....Aku gak mau dicap anak durhaka.. Aku hanya berebda pendapat.. Itu saja... Bolehkah??

How to make your children listen

How to make your children listen
Wonder how to make you children listen to you? Tips to make them hear you again, including positive reinforcement, planning ahead, and effective discipline.
Sponsored Links



Getting your children to listen is no easy task, but it is one that can be mastered with time and patience. The miracle of a listening child who does exactly what you want won’t happen overnight, but by using the following tips, it may happen sooner than later.


Preventing problems

· Try and see the problem from your children’s point of view. For example, you keep telling your children to clean their rooms, but they won’t do it. Is it because it’s not “cool” to have clean rooms? Will having clean rooms make it harder to find things? How did you feel about cleaning your room when you were a child? By understanding their perspective, you may be that much closer to a solution.


· Ask your children why they’re not doing what you want them to do. Sometimes they may just answer “because we don’t want to,” but they also may have a good reason for not doing the task, such as “We need to finish our homework first,” or “Steve is coming over, and we want to make snacks for us.”

· Phrase requests politely. Instead of saying, “Clean your room now!,” say, “Please have your room cleaned by 6 p.m. tonight,” or “When you finish with what you’re doing now, please clean your room,” or “You can clean your room now, or in 20 minutes. It’s up to you.”

· Work with your children for solutions to problems. For example, if your child always leaves his dirty clothes on the floor, perhaps you could put the clothes hamper in a more accessible place.

· Rehearse situations. For example, if your children have trouble getting up on time for school, tell them what they need to do each morning when they wake up, and then rehearse the day before. If your children don’t wake up on time, enter their room, and say, “It’s 7:30 a.m. What do you need to be doing now?”

· Don’t take responsibility for your children’s actions. If they have trouble waking up, but you continue to coax them to get out of bed, you both have lost, because the children know you won’t let them be late for school. Tell them you will call them twice, and then do it. Refuse to write them an excuse note if they are late for school.

· Avoid ultimatums. They perpetuate power struggles, and make both parties feel resentful. Instead, emphasize the positive aspects of a situation, such as telling your children how great they are going to feel when they finish a major project for school.


Discipline

· Speak calmly and reasonably when asking your children to do things. If you yell, they will yell right back.

· Discipline your children in private, not in front of their friends, because that will embarrass everyone, and build resentment from your children to you.

· Follow through with discipline. For example, if you tell your children not to leave their dirty clothes on the floor, and they do anyway, don’t wash any clothes that are not in the clothes hamper. Don’t back down, even if your children have to wear dirty clothes a few times.


Positive reinforcement

· Have faith in your children. For example, if they want help with their homework, offer suggestions as to where they can find the information themselves. Tell them you have confidence in their ability to do the work.

· Recognize excellence. When your children listen to you and do what you ask promptly, praise them and tell them how much you appreciate their actions. Also make sure your children hear you say good things about them to your spouse, friends and other adults.


Getting children to listen can be a long, tough process. Children can also be expected to test you once in a while, even if you have the best discipline. Be brief and calm when this happens, and remember that the situation will probably improve eventually. Remember that the final reward will be worth it; you’ll have well-behaved, responsible children who listen to adults.