Saturday, November 1, 2014

Underpass Pedestrian di Bogor

Karena saya dan kawan2 musisi tinggalnya di Bogor rasanya ga ada salahnya ya kalo sharing mengenai kota tercinta kami ini.

Mungkin sudah banyak yang tahu kalau di Bogor terdapat tugu kujang. Tapi saya bukan bahas Tugu Kujang,tapi mengenai underpass untuk pejalan kaki yang ingin menyebrang dari arah IPB atau sebaliknya. Dulu saya males lewat sini karena kumuh,kotor,dan bau pesing... Hehhee... Ini fakta jadi apa adanya memang seperti itu. Tapi Alhamdulillah setelah pergantian walikota pelan-pelan kota Bogor mulai berubah wajah. Salah satunya perubahan underpass ini yang sekarang berubah jadi bersih,rapi,dan sekaligus menjadi gallery karya seni. Semoga Kang Bima Arya walikota Bogor saat ini tidak menyerah membenahi kota Bogor. Partisipasi masyarakat juga tentunya paling penting buat ngerawat yang sudah ada.

Mudah2an fasilitas ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat atau wisatawan yang datang ke Bogor. Ada sedikit foto saat belum lama saya dan istri lewat underpass ini. Jadi bisa buat gambaran bagaimana kondisinya. Yuk mari datang ke Bogor!

Wednesday, October 29, 2014

Autisme Bukan Halangan Untuk Bermusik

Ingin sekedar berbagi pengalaman mengenai autisme yang kebetulan saya bersentuhan langsung dengan dunia tersebut. Sepanjang pengalaman saya mengajar musik khususnya drum, 3 bulan terakhir ini merupakan saat yang sangat istimewa bagi saya karena Allah memberi kesempatan untuk mengajar anak autis.

Sungguh pengalaman ini sangat berharga sekaligus membuat saya terharu. Jujur awalnya saya juga agak ragu karena memang baru kali ini berhadapan langsung dengan individu dengan autisme. Muncul perasaan "Saya bisa gak ya?' dll sebagainya. Tetapi Alhamdulillah setelah 3 bulan berjalan, dia menunjukkan perkembangan. Terharu rasanya melihat dia tertawa gembira ketika menginjakkan kakinya di pedal drum. Yang membuat saya terharu adalah dia bisa memainkan pedal drum dengan tempo yang konstan! Memang untuk koordinasi tangan dan kaki dia masih belum mampu, tetapi kemajuan apapun sangat berharga. Saya pun sangat salut kepada ibundanya yang setia mengantar kemanapun dan menemani dengan sabar.. Salut untuk seluruh orang tua yang mempunyai anak-anak istimewa seperti murid saya ini. Semoga seluruh kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan hati bapak dan ibu semua mendapat limpahan kebaikan yang berlipat, berkali lipat jauuuhh lebih baik dari Allah.. Aamiin..

Semoga catatan kecil ini bisa selalu menjadi bahan renungan terutama bagi saya pribadi bahwa sesuatu yang dianggap kekurangan bukan halangan untuk mencoba bidang baru. Selagi ada kemauan disitu ada jalan.

Khusus untuk muridku Faradi.. Semangat terus! Keep playing the beat!!

Tuesday, October 28, 2014

Arpeggio Band

Perkenalkan kami Arpeggio Band. Kami adalah grup band dengan konsep full elektrik dengan formasi M&F vocal,keyboard,bass & electric drum yang berdomisili di Bogor.Untuk permintaan khusus kami tambahkan juga saxophone untuk menambah romantis suasana. Genre yang kami bawakan adalah romantic pop & jazzy tunes. Sangat cocok untuk menambah kesan dalam acara pernikahan Anda/putra-putri Anda. Selain acara wedding kami juga siap menghibur acara semi formal Anda seperti seminar,gala dinner,atau apapun acara Anda.

Bagi Anda yang tinggal di Bogor dan sekitarnya dan memerlukan informasi lebih lanjut silahkan hubungi via WA/Sms/phone ke 0857 1896 2993. Harga negotiable :-) .

Bagaimana Menjadi Musisi yang "Baik"?

Bagi teman-teman yang sedang belajar musik ataupun yang mempunyai minat untuk menjadi pemusik tentu ingin menjadi seorang musisi yang baik bukan? Ternyata menjadi musisi yang baik bukan hanya harus menguasai skill semata, tapi ada hal-hal lain yang juga harus diperhatikan. Apa aja sih? Yuk kita bahas satu persatu.

Salam Kenal

Haloooo.. Salam kenal untuk semuanya. Sebenarnya ini blog udah lamaaa banget tapi ga keurus. Naaah sekarang saya mau refresh lagi sekalian promo. Eeehh jangan kabur dulu denger kata promo. Saya ga ngajak yang aneh2 kok join2 atau sebangsanya. Saya cuma mau promo jasa wedding band, photo wedding, dan kursus drum privat yang saya geluti saat ini. Siapa tau ada diantara Anda yang lagi perlu jasa tersebut, well jangan ragu2 bisa ngobrol2 sama saya. Siapa tahu cocok dan kita bisa kerjasama, betul nggak? Naaah buat permulaan saya mau kenalin dulu diri saya. Nama saya Ario, lengkapnya Ario Seno. Namanya Jawa tapi saya ga bisa bahasa Jawa soalnya saya dari lahir udah tinggal di Bogor. Eh Bogor Jawa juga kan yah? Tapi bedanya Bogor itu di Jawa Barat. Profesi saya saat ini adalah saya menjabat sebagai Kepala Sekolah di Elfa Music School Depok. Mungkin ada yang pernah dengar Elfa Secioria? Naah saya bekerja di salah satu cabang sekolah musik yang didirikan oleh almarhum di daerah Depok. Untuk yang kurang familiar dengan Elfa Secioria mungkin saya ada clue lain. Pernah dengar Elfa's Singer kan?? Naaah Elfa's Singer adalah grup bentukan beliau dan masih eksis sampai sekarang. Itu sekilas pekerjaan "kantoran" saya. Kalau di luar itu saya membuat project yang bernama Arpeggio Wedding Band dan Arpeggio Music Courses. Arpeggio Wedding Band adalah kepada siapapun yang memubutuhkan jasa entertainment terutama band dengan genre pop romantic untuk wedding, seminar dan sebagainya bisa hubungi saya. Kalau Arpeggio Music Course adalah kursus drum dan keyboard (sementara baru 2 departemen itu) secara privat. Guru yang datang kerumah, atau siswa yang datang ke rumah guru atau bisa bertemu di studio yang sudah disepakati bersama. Program kursus ini bukan cuma belajar doang, tapi juga ada KONSER yang rutin!! Di sebut "Home Concert" dimana siswa unjuk kebolehan memainkan komposisi yang dikuasai. Jadi bukan sekedar belajaaaar aja, tapi siswa juga ada kesempatan perform. Yang lebih asyiknya lagi, biaya perform sudah termasuk dalam biaya kursus bulanan. Jadi kapanpun diadakan konser, siswa gak perlu keluar dana lagi. Yaa kira2 demikian sekilas mengenai saya. Semoga bisa memberikan informasi dan inspirasi. :-)

Friday, April 8, 2011

Lowongan Kerja Tidak Akan Menghampiri Anda

Bagi Anda yang sedang mencari lowongan kerja, namun tidak kunjung datang. Baik Anda yang berhenti bekerja karena kena PHK atau memang baru mencari lowongan kerja. Menanti sebuah lowongan kerja, menjadi sebuah pekerjaan yang membuat kita stress, dimana perut lapar tidak mengenal kompromi. Tagihan-tagihan pun tidak mau tahu apakah Anda bekerja atau tidak.

“Sudah lulus kuliah? Kerja dimana?”

Ini juga pertanyaan yang cukup mengganggu bagi para lulusan perguruan tinggi. Tuntutan masyarakat terhadap lulusan perguruan tinggi begitu tinggi, sehingga dianggap aneh jika tidak bekerja. Sementara lowongan kerja tidak kunjung datang. Belum lagi, posisi kita sebagai anak yang bisa jadi membebani orang tua baik secara fisik maupun psikis.

Lalu bagaimana cara mengatasinya? Adakah jalan keluar?

Lowongan Kerja Tidak Akan Menghampiri Anda

Lowongan kerja tidak akan datang kepada Anda, Anda harus mencarinya. Orang yang mencari kerja itu bukan hanya Anda, ada ribuan bahkan jutaan orang diluar sana yang sedang mencari kerja seperti Anda. Jadi, jangan berharap lowongan menghampiri Anda. Anda harus melangkah keluar, menyambut lowongan tersebut.

Tidak, tidak cukup dengan mengirim surat lamaran kerja kepada perusahaan yang memasang iklan. Mengirim surat lamaran kerja itu hanya salah satu cara mendapatkan kerja, masih ada cara-cara lain yang perlu Anda lakukan. Bahkan, banyak yang mengatakan bahwa peluang pekerjaan sebenarnya lebih banyak datang dari jaringan, bukan iklan.

Saya sering mendapatkan tawaran kerja, dari teman-teman saya. Padahal saya tidak sedang mencari kerja. Artinya jaringan memegang peranan penting untuk mendapatkan lowongan kerja. Pertama tingkatkan silaturahim Anda, mungkin selama ini masih kurang. Yang kedua, jual diri Anda. Bisa jadi, jika Anda kurang mendapatkan tawaran, karena nilai jual Anda masih kurang. Ketiga tingkatkan kemampuan komunikasi Anda. Termasuk bagaimana cara “menjual diri” yang jitu.

Kuncinya belajarlah untuk mendapatkan peluang dan songsonglah lowongan kerja itu, bukan hanya ditunggu.
Selain Lowongan Kerja Ada Lowongan Bisnis

MLM? Please dech, jangan skeptis gitu.MLM hanya salah satunya. Anda bisa apa pun, menjual produk atau jasa. Banyak sekali peluang jika Anda mau membuka mata, tidak tertutup hanya pada lowongan kerja saja. Selama ini, mungkin Anda hanya fokus mencari kerja, padahal ada banyak lowongan bisnis yang Anda lewatkan.

“Tapi saya tidak punya modal.”

Ini adalah alasan klasik. Selalu saja, alasannya tidak punya modal.

“Saya memang tidak punya modal!”

Sssst, tidak usah marah. Anda bukan tidak punya modal, tetapi Anda tidak menyadari modal yang sebenarnya sudah Anda miliki. Uang atau modal capital hanya salah satu modal yang dibutuhkan. Tetapi Anda punya modal, hanya saja tidak disadari. Modal itu berupa tubuh Anda, pikiran Anda, waktu Anda, ilmu Anda, keterampilan Anda, dan sebagainya.

“Ya, tetapi tetap saja bisnis perlu uang.”

Jika memang demikian, maka gunakan modal yang Anda miliki saat ini untuk mendapatkan uang.

“Bagaimana caranya?”

Belajarlah. Setelah Anda belajar, ambil tindakan. Jika gagal coba lagi. Jangan nunggu ada orang yang “nyuapin” Anda. Anda sudah dewasa, punya modal, dan punya kemampuan. Berusahalah, jangan diam terpaku hanya kepada lowongan kerja yang tidak kunjung datang.

Tuesday, April 5, 2011

Sebelum kamu mengeluh

Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang
tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat
berbicara sama sekali

Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun
untuk dimakan.

Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta
di jalanan.

Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada
tingkat yang terburuk didalam hidupnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada
Tuhan untuk diberikan teman hidup

Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul

Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor
karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal di jalanan

Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan

Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat
yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda


Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa..


Kita semua menjawab kepada Tuhan


“Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam
kesusahan, Tersenyum dan mengucap syukurlah kepada Tuhan
bahwa kamu masih hidup !”


Life is a gift . .

Live it…

Enjoy it…

Celebrate it…

And fulfill it…


Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu..
Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan..
Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
karena anda menyayangi dan mencintai Mereka,
jadilah meraka CANTIK dan TAMPAN

Kecantikan bukan diwajah dan ketampanan bukan digagahnya seseorang,
tapi cantik dan tampan muncul dari HATI, disebut jg dengan Hati Nurani.

Monday, March 21, 2011

Penyebab Kegagalan

Anda tahu penyebab kegagalan Anda? Ya, setiap orang pernah mengalami kegagalan. Kemampuan memahami apa penyebab kegagalan Anda akan menjadikan diri Anda semakin cerdas dan bijak sehingga akan mampu berjalan kembali dengan lebih baik.

Untuk memahami penyebab kegagalan, diperlukan kemampuan berpikir analitis dan kritis. Kita perlu menghindari pemikiran yang emosional sehingga tidak mampu menemukan penyebab kegagalan. Jika Anda tidak mampu menemukan penyebab atau akan permasalahan kegagalan Anda, maka Anda tidak akan mampu untuk memperbaikinya.

Artikel ini akan menjelaskan bagaimana menelusuri penyebab kegagalan, bahkan penyebab utama yang disebut dengan root cause sehingga jika kita bisa menemukannya dan mampu mengatasinya, kita akan berjalan lebih baik.
Hindari Penyebab Kegagalan Emosional

Perlu dipahami, Anda harus membedakan antara intuitif dan emosional. Intuitif bisa memberikan solusi, tetapi tidak dengan emosional yang sering kali hanya membela ego sendiri. Jika pikiran Anda fokus untuk membela ego sendiri, maka Anda akan selalu menganggap bahwa masalah ada di luar, termasuk ada di luar kendali Anda. Jika sebuah masalah berada di luar, maka kita tidak akan pernah bisa mengatasinya. Anda akan mengalami kegagalan yang sama terus menerus akhirnya Anda menyerah dan malas untuk berusaha lagi.

Contoh-contoh penyebab emosional diantaranya:

* menyalahkan orang lain
* menyalahkan kondisi
* menyalahkan peristiwa
* menyalahkan pemerintah
* menyalahkan saingan
* menyalahkan masyarakat
* menyalahkan takdir

Pokoknya, dia akan menyalahkan apa pun di luar dirinya. Jika masalah ada di luar Anda, maka Anda tidak akan bisa mengatasinya. Khusus untuk yang terakhir, menyalahkan takdir, ini akan menutup semua pikiran Anda untuk menemukan solusi. Toh, sudah takdir, apa pun yang dilakukan akan percuma.

Kalau kita tidak boleh mengalahkan apa yang ada di luar diri kita, apakah kita harus menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab kegagalan kita?

Mungkin banyak motivator yang mengatakan bahwa Anda harus menyalahkan diri sendiri secara mutlak.

Anda sulit menerimanya?

OK, jika Anda yakin masih ada faktor luar sebagai penyebab kegagalan, namun saya tetap mengajak Anda untuk tetap memulai memeriksa diri sendiri sebelum menyalahkan pihak luar. Ini akan memberikan pengalaman yang luar biasa, memberikan pelajaran, dan hikmah yang berharga dibandingkan Anda fokus menyalahkan pihak luar sebagai penyebab kegagalan Anda.
Ambilah Tanggung Jawab

Jika Anda ingin menjadi orang yang berpikiran maju, maka Anda harus mengambil tanggung jawab atas kegagalan Anda. Anda gagal karena Anda sendiri, karena kesalahan yang Anda lakukan.

Mari kita lihat, apa yang menyebabkan seseorang gagal?

Jawabannya adalah karena dia berhenti. Kata “berhenti” memiliki dua makna. Pertama berhenti bertindak untuk mencapai tujuannya. Kedua berhenti untuk menyesuaikan tujuannya dengan kondisi yang ada.

Saya rasa, Anda sudah paham dengan maksud yang pertama. Anda akan gagal jika Anda berhenti bertindak untuk mencapai tujuan Anda. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa seseorang berhenti bertindak?

Ada dua kemungkinan jawaban. Yang pertama karena dia tidak mengetahui apa lagi yang harus dilakukan. Yang kedua karena dia tidak mau lagi untuk bertindak. Namun jawaban pertama bisa digugurkan dengan seketika. Jika Anda tidak mengetahui apa yang harus Anda lakukan, maka seharusnya Anda mencari tahu. Berusaha agar Anda mengetahui apa yang harus Anda lakukan. Pertanyaanya adalah apakah Anda mau mencari tahu? Jadi intinya adalah kemauan.
Baru lagi nih saya posting. Kebetulan saya lagi browsing2 internet, dan saya menemukan artikel menarik di motivasiislami.com. Ini mengenai kegagalan. Kegagalan yang sering menjadi momok kita semua. Padahal tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan, dan tak ada kegagalan tanpa keberhasilan. Yang kita perlu rubah adalah pola pikir kita.. Artikel ini sangat membantu saya. Semoga ini juga bisa membantu yang lain. Enjoy and absorb at yout most comfortable space..

Jadi bisa kita simpulkan bahwa penyebab seseorang berhenti adalah karena sudah tidak ada kemauan.

Yang kedua, kadang, kita bisa berhenti karena memang kondisi yang tidak menguntungkan. Misalnya Anda memiliki tujuan untuk menjadi seorang PNS. Anda tidak berhenti untuk berusaha menjadi PNS dengan mengikuti ujian setiap tahun. Namun, Anda tetap gagal karena umur melewati batas syarat menjadi PNS. Dan Anda disebut gagal menjadi seorang PNS. Ya, Anda gagal menjadi seorang PNS jika Anda berhenti.

Anda memang tidak mungkin lagi untuk menjadi PNS karena umur sudah tua. Tetapi, Anda masih bisa menyesuaikan tujuan Anda dengan kondisi saat ini. Apa tujuan Anda sebenarnya menjadi PNS? Jika mau mengabdi kepada masyarakat, ada cara lain, meski Anda tidak menjadi PNS. Jika ingin mendapatkan pensiun, ada pihak ketiga yang bisa mengatur pensiun Anda. Pertanyaanya adalah apakah Anda mau menyesuaikan tujuan Anda? Ya, kembali kepada kemauan Anda sendiri.

Sunday, March 6, 2011

What is The Meaning of Gengsi?

Hmmm.. Saya mengetik ini di tengah-tengah cuaca bogor yang sedang hujan siang-siang. Sungguh suasana yang sangat nyaman kalau kita bisa menikmatinya. Kadang di tengah cuaca seperti ini saya merenung. Apa ya yang dilakukan oleh orang-orang di luar sana? Di kampung saya ini masih banyak anak-anak yang jadi ojek payung. Walaupun sudah tidak sebanyak dulu lagi. Mungkin gengsi ya? Hehehe..Saya suk tertawa sendiri mendengar kata ini. "Gengsi". Kata yang sangat akrab terutama di masyarakat kita.
Terus terang saya juga pernah mengalami sindrom ke"gengsi"an ini. Saya yang sering naik motor merasa kurang nyaman kalau naik angkot. Alasannya sebenarnya menggelikan. Saya tidak nyaman kalau duduk dempet-dempetan. Hahahaaa!! Padahal saya dulu kemana-mana naik angkot. Dan motor saya pun hanya Supra Fit yang kalau di jual harganya lebih murah dari laptop terbaru!! Hmm... Kadang kita suka melihat sesuatu lebih rendah dari kita dan kita "meninggikan" diri kita sendiri.
Contoh yang lebih besar bisa kita lihat pada kondisi masyarakat kita terutama kalangan terpelajar. Sering kita lihat yang sudah menggenggam gelar sarjana merasa "gengsi" kalau harus jualan. Merasa gengsi kalau tidak pake BB. Padahal kadang kita belum perlu-perlu amat. Yang parah anak SMA merasa ketinggalan jaman kalau hp-nya masih yang merek SE atau NOK. Maunya BB!! Sampai-sampai ada ekspatriat yang bingung kok hp bisnis dipake sama anak SMA. Hehhee..
Tapi saya tidak memukul rata ya itu cuma contoh saja kok. Kadang juga yang gengsi itu keluarga. Misalnya kita ingin merintis bisnis. Keluarga sering tidak setuju atau menakut-nakuti. Misalnya "Ngapain sih jualan mending kerja di bank "A". Atau "bisnis itu perlu modal. Kamu siap bayar utang?", dsb. Kalau dicerna lebih jauh sebenarnya itulah kondisi mental masyarakat kita. Kita lebih merasa nyaman dan aman bila kita kerja di sebuah kantor besar, dengan nama besar, dengan jabatan besar/tinggi, dibanding kita merintis dari nol, jualan pakai gerobak,atau kepanasan di atas motor.
Tapi itu pilihan kok. Saya menghargai teman-teman saya yang memilih menjadi karyawan. Karena memang semuanya kembali lagi kepada pilihan kita.
Saya juga dulu anti sama yang namanya MLM. Dan ketika saya bergabung di Avail saya tidak langsung aktif. Saya lebih ke arah menjual saja. Karena saya "gengsi" menawarkan ke orang lain untuk jadi member di bawah saya. Saya tidak suka dengan komentar orang yang bilang "Bisnis kamu MLM yaaaa..". Dan saya terpengaruh dengan kalimat "bisnis MLM itu bisnis rendahan".
Tapi setelah saya renungi, saya menyadari ternyata kegengsian itu berasal dari rasa "takut". Takut diomongin orang,takut ditolak, takut dicemooh, takut tidak dihargai, dll. Jadi terkadang rasa gengsi kita tidak berbeda jauh dari rasa ketakutan kita. Seiring berjalannya waktu saya banyak bertemu orang-orang yang sukses di MLM, baik di Avail atau di tempat lain, seperti DBS, Tupperware, K-Link, dsb,pandangan saya berubah. Kalau banyak yang sukses maka buat apa kita takut?? Memang banyak yang tidak berhasil di bisnis ini. Tapi itu bukan alasan, karena banyak juga kok yang tidak berhasil di bisnis konvensional. Banyak pengusaha atau toko yang gulung tikar tapi kita tidak tahu saja. Yang penting balik lagi ke tujuan kita. Kita mau sukses atau tidak? Lagipula di MLM investasi yang kita keluarkan tidak seberapa. Kalu mau hitung-hitungan modal, modal untuk MLM rata-rata paling tinggi itu hanya 5 Jutaan. Bayangkan 5 juta itu kalau mau buka toko apa cukup? dan 5 juta itu tidak langsung kok, karena kita bisa memulai investasi dari hanya ratusan ribu saja. Di Avail pun sangat murah. Daftar member cuma 60.000 perak. Dan minimal belanja dari satu bal yang harganya cuma 250 ribuan juga bisa. Gak ada modal juga buat belanja? Pinjam saja dulu stoknya ke upline kita!!!Kalau kita semangat dan sungguh-sungguh bisa langsung kita lunasi dalam waktu 2-3 hari.
Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara kalau kita ingin sukses. Yang penting kita jauh-jauh deh dari namanya "gengsi". Jualan kita ditolak? Ahhh makin banyak ditolak itu sebenarnya mengasah skill dan kesabaran kita kok. Karena dibalik penolakan maka akan ada jalan yang mengantarkan kita ke penerimaan. Satu saja bekal kita: percaya!! Jadi Anda percaya atau tidak? Kalau saya sih PERCAYA!!!.
Dan saya ingat ucapan pak Mario Teguh: "Batas tertinggi penghasilan dari karyawan adalah gaji dari atas, tapi batas pengusaha hanya dirinya sendiri". Jadi mau jadi sebesar apakah diri kita? Kita yang menentukan sendiri. Mudah-mudahan tulisan ini menjadi motivasi terutama buat saya yang menulisnya, hehehe... Semangat teruuuusss!!! SAY NO TO GENGSI!!!

Friday, February 25, 2011

Waktu Terus Berjalan..

Toni dan Dedi telah lama menganggur. Bekerja tidak, bisnis pun tidak. Pekerjaan mereka sehari-hari hanya mengobrol di pos ronda sambil main catur. Saat mereka sedang asik main catur, tiba-tiba ada seorang perempuan cantik lewat.

Toni langsung melihat perempuan itu dengan penuh kekaguman,

“Wow, cantik bener…. ” sambil terus melihatnya.

“Eh, jangan melihat terus, dosa tuch…” kata Dedi.

“Astaghfirullah”, kata Toni sambil langsung memalingkan wajah ke papan catur.

“Ton, kamu harus cepat menikah tuch… Usia kamu kan sebentar lagi sudah kepala tiga.” kata Dedi.

“Iya yah… biar mata saya tidak jelalatan lagi. Banyak dosa nich…” katanya sambil tersenyum.

“Ahamdulilah, kamu sadar. Takut dosa.” kata Dedi sambil tersenyum juga.

“Kamu sendiri?”, kata Toni balik menyerang.

“Saya sendiri kan tidak jelalatan kayak kamu.” kata Dedi menimpali dengan cepat.

“Tapi tetap saja harus segera menikah, itu kan saran Rasulullah saw bagi pemuda seusia kita. Masa harus puasa terus, sementara usia semakin hari semakin tua.”

Kondisi menjadi hening… mereka kembali melihat papan catur. Permainan menjadi hampa dan tidak menarik lagi. Selain karena mereka main catur setiap hari, pikiran mereka melayang kemana-mana. Mereke mulai terusik dengan nasib mereka sendiri.

“Iya yah, kita harus segera menikah, itu kan setengah agama. Tapi, siapa yang mau kepada kita yang pengangguran ini.” kata Toni memecah keheningan.

Tapi Dedi tidak memberikan respon. Matanya terus tertuju ke papan catur. Sepertinya dia sedang memikirkan langkah selanjutnya untuk mengalahkan Toni. Tapi….

Dia tiba-tiba bangkit dari tempat duduknya. Kemudian matanya dialihkan melihat jalanan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan, orang berangkat kerja, dan pedagang. Tapi tatapannya kosong. Kemudian dia berkata,

“Waktu berjalan terus. Banyak yang harus kita lakukan, seperti menikah. Banyak yang kita inginkan, seperti mata pencaharian. Namun bagaimana semua itu bisa kita miliki jika kita tetap seperti ini? Kita tidak mungkin bisa mengubah nasib jika kita tidak bisa mengubah cara hidup kita.”

“Mungkin sudah nasib kita…” jawab Toni yang menyandarkan tubuhnya ke dinding pos ronda.

“Iya, ini memang nasib kita. Nasib yang kita bentuk dengan kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan selama ini. Bagaimana jika kebiasaan kita ubah? Dengan kebiasaan yang bermanfaat, produktif, atau menghasilkan uang?” kata Dedi.

“Iya… tapi apa?” sambil tetap bersandar.

“Saya juga belum tau.” jawab Dedi sambil membereskan papan catur. Sepertinya permainan catur sudah benar-benar tidak menarik lagi bagi mereka saat itu.

“Ah kamu…” ketus Toni.

“Untuk itulah kita cari tau.” jawab Dedi sambil melangkah pergi.

“Hei… mau kemana?” tanya Toni heran.

“Mau ke rumah paman saya, kali saja ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa saya lakukan.” jawab Dedi sambil tetap melangkah.

“Saya juga mau, tunggu…” kata Toni sambil buru-buru menyusul temannya itu.

Wednesday, January 26, 2011

Jiwa Enterpreneurship Nabi Muhammad SAW (Bukan bermaksud sara hanya ingin berbagi untuk direnungi)

Pagi-pagi buta ini saya searching di web dan iseng mengunjungi web forum terbesar di Indonesia, saya menemukan postingan yang sangat menarik. Ini mengenai jiwa wirausaha Rasulullah SAW. Saya bukan bermaksud sara dengan mengangkat topik ini. Tapi saya ingin berbagi dan ingin memberikan pemahaman bahwa negara kita yang mayoritas muslim ini tapi kebanyakan penduduknya "ingin" menjadi karyawan. Padahal Nabi Muhammad SAW adalah enterpreneur sejati. Dan Anda pasti ingat bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Menjadi karyawan adalah pilihan, tetapi bukankah lebih bermakna bila kita bisa menjadi "tangan yang diatas"? Dalam artian Andalah yang membuka peluang-peluang untuk orang lain. Bukan menjadi "tangan di bawah" dalam artian menerima gaji saja. Saya tidak bermaksud menyinggung siapapun, karena hidup adalah pilihan. Saya sangat menghormati rekan-rekan yang memilih menjadi karyawan. Tapi semoga postingan ini bisa menjadi bahan pertimbangan dan renungan. Sekali lagi apapun pilihan Anda, saya sangat menghargai. Yuk kita baca uraian di bawah ini bersama-sama:
Dari beberapa literatur yang didapat, betapa jiwa entrepreneurship Rasulullah di bidang wirausaha begitu mendominasi, sehingga beliau berkembang menjadi seorang pemimpin yang memiliki jiwa entrepreneur, dan keterampilan manajemen yang baik untuk mengelola sebuah dakwah, sebuah sistem yang bertata nilai kemuliaan Al Islam.
Pada waktu Rasulullah masih kecil, beliau sudah mempunyai sebuah proyek untuk menjaga kehormatan harga dirinya agar tidak menjadi beban bagi kehidupan ekonomi pamannya, Abu Thalib, yang memang tidak tergolong kaya. Beliau mendapat upah dari menggembalakan beberapa ekor kambing miliki orang lain, yang secara otomatis mengurangi biaya hidup yang harus ditanggung oleh pamannya ini. Pada usia 12 tahunan, sebuah usia yang relatif muda, beliau melakukan perjalanan dagang ke Syiria bersama Abu Thalib. Beliau tumbuh dewasa di bawah asuhan pamannya ini dan belajar mengenai bisnis perdagangan darinya. Bahkan ketika menjelang dewasa dan menyadari bahwa pamannya bukanlah orang berada serta memiliki keluarga besar yang harus diberi nafkah, Rasulullah mulai berdagang sendiri di kota Mekkah. Bisnisnya diawali dengan sebuah perdagangan taraf kecil dan pribadi, yaitu dengan membeli barang dari satu pasar dan menjualnya kepada orang lain.
Aktivitas bisnis lainnya dengan sejumlah orang di kota Mekkah pun dilakukan. Dengan demikian ternyata Rasulullah telah melakukan aktivitas bisnis jauh sebelum beliau bermitra dengan Khadijah. Dan inilah yang membuahkan pengalaman yang tak ternilai harganya dalam mengembangkan jiwa kewirausahaan pada diri Rasulullah. Ciri yang sangat khas dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah waktu itu adalah beliau sangat terkenal karena kejujurannya dan sangat amanah dalam memegang janji. Sehingga tidak ada satupun orang yang berinteraksi dengan beliau kecuali mndapat kepuasan yang luar biasa. Dan ini merupakan sebuah nuansa dengan pesona tersendiri bagi warga Jazirah Arab. apalagi kemuliaan akhlaknya seakan menebarkan pesona indah kepribadiannya. Pun ketika beliau tidak memiliki uang untuk berbisnis sendiri, ternyata beliau banyak menerima modal dari orang-orang kaya Mekkah yang tidak sanggup menjalankan sendiri dana mereka, dan menyambut baik seseorang yang jujur untuk menjalankan bisnis dengan uang yang mereka miliki berdasarkan kerjasama. Tiada lain karena sejak kecil Rasulullah telah dikenal oleh penduduk Mekkah sangat rajin dan penuh percaya diri. Dikenal pula oleh kejujuran dan integritasnya dibidang apapun yang dilakukannya. Tak berlebihan bila penduduk Mekkah memanggilnya dengan sebutan Shiddiq (jujur) dan Amin (terpercaya). Salah seorang pemiliki modal itu adalah Khadijah, yang kelak menjadi istri beliau, yang menawarkan suatu kemitraan berdasarkan sistem bagi hasil (profit sharing). Dan, subhanallaah, kecakapan Rasulullah dalam berbisnis telah mendatangkan keuntungan, dan tidak satupun jenis bisnis yang ditanganinya mendapat kerugian. Selama bermita dengan Khadijah inilah Rasulullah telah melakukan perjalanan dagang ke pusat bisnis di Habasyah (Ethiopia) dan Yaman. Beliau pun empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syria dan Jorash.
Diantara hal yang terus menerus harus kita teladani dari Rasulullah dalam interaksi bisnisnya adalah beliau sangat menjaga nilai-nilai harga diri, kehormatan, dan kemuliannya dalam proses interaksi bisnisnya ini. Bisnis bagi Rasulullah SAW tidak hanya sebatas perputaran uang dan barang, tapi ada yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu mejaga kehormatan diri. Sehingga keuntungan apapun dari setiap transaksi yang beliau dapatkan, maka kemuliaannya justru semakin menjulang tinggi. Semakin dihormati, semakin disegani dan ini menjadi aset tak ternilai harganya yang mendatangkan kepercayaan dari para pemilik modal. Dengan kata lain, modal terbesar dari seorang yang menjadi pengusaha sukses, pemimpin sukses, atau ilmuwan sukses dalam disiplin ilmu apapun, ternyata jiwa entrepreneur ini harus dikembangkan sejak awal.
Pembangunan harga diri, pembangunan etos kerja, pembangunan karir kehormatan sebagai seorang jujur yang terbukti teruji dan sangat amanah terhadap janji-janji, jikalau hal ini ditanamkan, dilatih sejak awal maka akan membuahkan kepribadian yang sangat bermutu tinggi dan ini menjadi bekal kesuksesan bekerja dimanapun atau kesuksesan mengemban amanah jenis apapun. Dan yang paling perlu digaris bawahi, Rasulullah SAW mengadakan transaksi bisnis sama sekali tidak untuk memupuk kekayaan pribadi, tetapi justru untuk membangun kehormatan dan kemuliaan bisnisnya dengan etika yang tinggi dan hasil yang didapat justru untuk didistribusikan ke sebanyak umat. Sehingga kesuksesannya mampu membawa banyak dampak positif, yaitu kesuksesan dan kesejahteraan bagi umat yang lainnya. Dan inilah yang menyebabkan kepribadian junjungan kita, Rasullah SAW begitu monumenatal, baik dalam mencari nafkah maupun dalam menafkahkan karunia rizki yang diperolehnya.

Sunday, January 23, 2011

Kisah Tukang Becak (Inspiratif untuk semua)

Tukang Becak Berpenghasilan 9 juta/bln

Sumber: Wirausaha&Keuangan, Edisi 54/2007

Coba kita lupakan segenap teori canggih dunia marketing maupun teori tentang punya bisnis sendiri. Sementara banyak orang yang masih harus bergelut dalam kesibukan marketing/kesibukan bisnis setiap hari setelah 10 tahun bekerja atau berbisnis, mari kita simak kisah ilustrasi seorang tukang becak tamatan SD yang sudah mencapai ”financial freedom” setelah bekerja hanya + 5 Tahun saja, dengan ”pasif income” Rp9 juta/bulan. Ikuti jalan aliran bisnisnya.

Becak pertama. Seorang tukang becak motor berpenghasilan bersih Rp60 ribu/hari. Biaya hidupnya + Rp30 ribu. Lalu ia berjuang untuk konsisten menabung Rp30 ribu/hari. Dalam tempo 400 hari, ia mampu membeli becak kedua yang harganya Rp12 juta/unit. Becak kedua, ia sewakan dengan tarif Rp30 ribu/hari. Sekarang ia bisa menabung Rp60 ribu/hari. Dalam tempo 200 hari ia mampu membeli becak ketiga. Begitu seterusnya ia lakukan dalam mengelola bisnisnya, hingga ia mampu membeli becak ke sepuluh dan ia pensiun. Kini ia menikmati penghasilan Rp300 ribu/hari, atau Rp9 juta/bulan. Jika ditotal semua usahanya tsb hanya dicapai dalam tempo 3,2 tahun saja. Ini LOGIS dan bisa TERJADI.

Sekarang bandingkan dengan banyak profesional tamatan S1 ataupun S2, atau bandingkan dengan para pengusaha yang masih harus bergelut dengan kesibukan mencari nafkah setiap hari. KONTRAS SEKALI bukan.

Ternyata kunci suksesnya terletak pada bagaimana kita mampu menduplikasi bisnis. RAHASIANYA: jalankan bisnis yang mudah diduplikasikan, dan tidak perlu keterlibatan kita secara penuh dalam bisnis tersebut. Contoh: ikuti bisnis franchise yang berpotensi, beli asset lalu sewakan asset tsb, dsb.

Bayangkan seorang marketer jenius/pebisnis jenius sekalibur Schultz (ia baru dijuluki jenius setelah sukses, tetapi saat pertama kali menawarkan ide bisnis menjual secangkir kopi seharga puluhan ribu rupiah, ia diteriaki gila dan ditolak ratusan orang). Kini hasilnya luar biasa, kedai kopi pertama (Starbucks) yang dibangun Schultz tahun 1985, menjelma menjadi lebih dari 10.000 lebih toko di tahun 2007, dan tersebar di seluruh dunia. Dan terus berlipat ganda setiap tahun sampai sekarang. ANDA pun BISA.

Pikirkan BISA dan anda pasti BISA ..!!

Seekor gajah yang diikat kakinya sejak kecil dengan seutas rantai sepanjang 4 meter, ketika dia dewasa dia tidak akan melangkah keluar dari area lingkaran 4 meter walaupun rantainya sudah diganti dengan seutas benang. Itu bukan cerita, itu kisah nyata.

Kita sebagai manusia yang berakal budi ternyata juga mengalami trauma yang sama. Teman saya sejak kecil tidak berani mengendarai sepeda, ketika kami remaja dan suka keliling kota dengan sepeda motor, dia selalu dibonceng teman lainnya, setelah kami dewasa beberapa teman mulai memakai mobil untuk aktivitasnya, tapi teman saya itu tetap tidak berani mengendarai apapun.

Anda jg pasti punya teman yg tidak pernah mau mencoba mengendarai sepeda/sepeda motor, apalagi mobil, selalu takut & merasa bahwa mengendarai motor atau mobil adalah sesuatu yg sangat sulit. Istri teman saya bisa mengendarai mobil, setiap hari dia menggunakan mobil untuk antar jemputnya ke dan dari sekolah, tapi dia hanya berani

menggunakannya di dalam kompleks ( Kelapa Gading Jakarta ), selama lebih dari 5 tahun tidak pernah sekalipun dia berani mengendarai mobil keluar dari Kelapa Gading.

Suatu hari anaknya sakit dan masuk rumah sakit di Sunter diluar Kelapa Gading, dan suaminya sedang tugas di luar kota. Terpaksa dia mengendari mobilnya pergi ke rumah sakit tersebut, dan sejak saat itu dia berani mengendarai mobilnya kemana saja, termasuk pulang pergi ke bandung.

Ada staff di bagian keuangan yang sudah bekerja 5 tahun, tidak pernah bisa meraih promosi jabatan karena disana adalah jabatan fungsional yang buntu dengan jenjang karir, ketika saya tawarkan jabatan di bagian marketing, dia tidak berani mengambilnya karena merasa tidak mampu menjadi orang marketing.

Ada seorang salesman yang sudah bekerja 10 tahun, prestasinya bagus, disegani teman temannya, bahkan jadi tempat bertanya atasannya. Ketika ditawari jabatan supervisor dia menolak karena dia takut dengan pekerjaan administrasi dan takut kalau nanti suatu hari naik lagi jadi distrik manager yang sarat dengan tugas tugas di atas meja, dia merasa tidak bisa mengerjakan pekerjaan adminitrasi.

Dear teman2 sekalian, coba anda lihat diri anda sendiri, adakah seutas benang yang memhambat diri anda saat ini? Putuskan benang itu, bergeraklah maju lebih dari lingkaran yang selama ini mengurung anda.

Anda pasti bisa kalau anda berpikir anda bisa, anda akan gagal kalau anda selalu berpikir anda akan gagal. Peluang demi peluang muncul setiap hari, dan karena selama ini anda menutup mata anda, telinga anda, pikiran anda, diri anda, hidup anda, maka peluang itu menjadi bukan peluang, lewat begitu saja.

Mulailah melangkah sedikit demi sedikit kalau anda masih gamang, lalu berlari cepat setelah anda lebih yakin lagi. Jangan sia siakan setiap peluang untuk maju, untuk berhasil, demi diri anda sendiri

Tuesday, June 10, 2008

Konflik Itu Perlu

Konflik Itu Perlu

TPGImages

Rabu, 4 Juni 2008 | 09:31 WIB

LO, KOK ? Soalnya, konflik membuat hubungan suami-istri makin berkembang dan maju. Yang penting bagaimana mengelola konflik tersebut.

Jangan percaya bila ada pasangan yang mengaku tak pernah konflik. Karena yang namanya perkawinan, akan senantiasa diintai oleh konflik, dari konflik kecil hingga besar. Soalnya, suami-istri itu merupakan dua pribadi yang berbeda. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, mempunyai keinginan dan sikap yang berbeda. Misi, tujuan, dan visi perkawinan mereka juga berbeda. "Nah, perbedaan-perbedaan ini merupakan unsur yang bisa menimbulkan konflik," ujar Ieda Poernomo Sigit Sidi.

Tak masalah apakah pasangan tersebut sudah berpacaran dalam waktu lama sekalipun, "konflik tetap saja akan muncul," lanjut Ieda. Karena begitu memasuki perkawinan, kedua pribadi yang berbeda ini akan dipertemukan. "Nah, pada waktu bertemu itulah bisa saja aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari menimbulkan konflik," tambah psikolog wanita, anak, dan keluarga ini. Maklumlah, setelah menikah orang biasanya baru tahu semuanya, termasuk segala hal yang jelek dari pasangannya. Makanya, nggak aneh lagi kalau kemudian timbul konflik.

Jenis Konflik

Perlu diketahui, segala hal bisa menjadi pemicu timbulnya konflik dalam perkawinan. Soal selera, misalnya. Suami tak suka sayur lodeh tapi malah sayur itu yang sering dimasak oleh si istri lantaran ia suka. Terang dong si suami kesal, "Sudah tahu aku enggak suka sayur lodeh, tapi kok masih kamu suguhkan juga?"

Begitu juga soal pengaturan waktu pada suami-istri, baik waktu di dalam maupun di luar rumah. Misalnya, "Saya sudah pulang, tapi kok kamu belum pulang. Berapa kali dalam seminggu kamu meninggalkan rumah di akhir pekan?" Belum lagi soal pengasuhan anak yang berbeda, "Apalagi jika masing-masing merasa dirinya benar, paling tahu, paling bisa menjanjikan kesuksesan buat anak," kata Ieda.

Demikian pula dalam hal berhubungan seks, mulai soal tempat tidurnya sampai ke cara-cara berhubungan. Bahkan, bentuk komunikasi di antara suami-istri pun bisa menimbulkan konflik. "Kita berkomunikasinya dengan cara bagaimana? Apakah mengatakan semua apa yang kita simpan atau hanya diam saja, memendam semua di dalam hati? Hal ini bisa menimbulkan konflik karena satu sama lain tidak cocok."

Bagaimana tanggapan si pasangan terhadap perbedaan-perbedaan tersebut juga bisa menimbulkan konflik. Misalnya, dia "telan" saja apa yang ada dengan pikiran, "Memang sudah nasib saya begini." Atau, malah dia cari makanan di luar, misalnya, dan makanan di rumah enggak "disenggol" sama sekali. "Nah, itu, kan, konlik lagi!" tukas Ieda.

Yang pasti, semakin luas perbedaan di antara suami-istri akan semakin memungkinkan munculnya konflik-konflik besar, sehingga usaha suami-istri untuk mempertemukan persepsi, visi dan misi dalam membina rumah tangga menjadi lebih besar lagi. Itulah mengapa Ieda kerap menganjurkan untuk mencari pasangan se-level agar tak terlalu jauh "jurang" perbedaannya, sehingga konflik yang muncul pun tak terlalu tajam.

Namun begitu, bukan berarti kita salah pilih pasangan bila kemudian konflik datang bertubi-tubi. Karena dengan siapapun kita menikah, toh, tak menjamin perkawinan kita bakal terbebas dari konflik. Iya, kan! Yang sering terjadi adalah, kita salah duga atau salah niat, begitu kata Ieda. Misalnya, "Biarin, deh, nanti kalau sudah kawin ia juga akan sadar dengan sendirinya." Padahal, tidak demikian. Karena, terangnya, "karakter seseorang sudah terbentuk hingga ia dewasa dan menikah." Selain itu, "Setiap orang mempunyai hak untuk menjadi dirinya sendiri."

Mengelola Konflik

Lantas, bagaimana, dong? "Ya, suami-istri harus berusaha mempertemukan karakter yang berbeda itu," tukas Ieda. Dalam bahasa lain, kita harus bisa mengelola konflik yang ada dengan baik. "Suami-istri harus melihat konflik sebagai suatu titik yang menunjukkan adanya perbedaan, dan oleh karena itu ada yang harus dipertemukan, disepakati, serta dipahami bersama-sama. Dengan demikian, konflik tersebut ibarat tumpukan batu bata yang ditata untuk menjadi sebuah bangunan kokoh," tuturnya.

Jadi, tandas Ieda, suami-istri, khususnya pasangan muda, tak perlu takut dengan adanya konflik yang muncul dalam rumah tangga. "Justru dengan adanya konflik akan membuat suami-istri menjadi berkembang dan maju. Mereka akan menjadi semakin matang." Karena konflik adalah fundamen untuk membentuk rumah tangga. Dengan demikian, suami-istri akan mampu bertahan terhadap goncangan lain yang lebih besar.

Nah, agar kita bisa mengelola konflik dengan baik, maka kita harus membicarakan perbedaan yang ada dengan pasangan. "Tapi sebelum membicarakannya kita harus lihat situasi dan kondisinya dulu, apakah memang bisa dibicarakan pada saat itu ataukah perlu waktu dan tempat khusus untuk membicarakannya?" Ieda mengingatkan. Soalnya, kita, kan sedang berusaha mempertemukan pendapat-pendapat yang berbeda. Sementara dalam situasi konflik kita biasanya tengah dilanda emosi. Nah, biasanya kalau orang lagi emosi, apa saja bisa keluar sehingga persoalan bisa merembet-rembet ke mana-mana. Kalau sudah begitu, bukannya menyelesaikan masalah malah mempertajam masalah. Iya, kan!

Untuk itu, saran Ieda, sebaiknya yang berkepala dingin harus membantu yang sedang panas. "Namanya pasangan, maka keseimbangan harus tetap dijaga." Misalnya, "Tadi aku telepon kamu ke kantor, kok, kamu enggak ada. Ke mana, sih?" Bila reaksinya malah meledak, tanggapilah dengan kepala dingin, "Aku cuma tanya, kok. Ya, sudah kalau kamu enggak suka menjawabnya." Nanti, setelah keduanya tenang dan mesra, bicarakan kembali masalah tersebut, "Tadi aku cuma tanya, tapi, kok, kamu marah. Jadi bagaimana sebaiknya agar kamu enggak marah?" Dengan begitu, masing-masing jadi belajar untuk saling memahami.

Tapi jangan mentang-mentang harus memperhatikan situasi dan kondisi, lantas konflik tersebut disimpan dalam waktu lama. Karena kalau terlalu lama, pasangan Anda akan heran dan lupa pada masalah tersebut, "Kok, baru sekarang dibuka?" "Cukuplah sehari atau dua hari hingga seminggu ditundanya," kata Ieda. Sambil Anda mencari waktu penyelesaian kala pasangan Anda sedang dalam situasi emosi yang enak, tak menunggu sesuatu atau mengerjakan sesuatu.

Memang, diakui Ieda, pasangan muda cenderung lebih mudah meledak. "Saya kira karena faktor emosi. Karena kalau pemahaman, sampai berapa puluh tahun pun setiap pasangan harus belajar terus dalam memahami pasangannya. Jangan lupa, manusia itu dinamis, berkembang terus, sehingga sikap pasangan Anda 5 tahun lagi belum tentu sama dengan yang sekarang." Karena itulah yang diperlukan adalah kemampuan pengendalian emosi.

Harap dipahami, lanjut Ieda, keluarga kita mungkin bisa memahami dan tak protes dengan ekspresi kemarahan kita. Entah itu dengan cara meledak-ledak atau bungkam 1000 bahasa dan mengunci diri di kamar. Tapi ketika kita memasuki perkawinan, pasangan kita belum tentu terbiasa dan mengerti bahwa kita itu kalau marah seperti itu, dan dia pun belum tentu bisa menerima. "Jadi, kita harus menyadari dulu, apakah kebiasaan kita marah tersebut merugikan diri kita dan orang lain atau tidak. Dengan adanya kesadaran tersebut, maka bisa ada perubahan. Kalau tidak, ya, jangan harap akan ada perubahan."

Bila kita tetap ngotot, misalnya, "Ya, terserah. Pokoknya beginilah cara aku marah. Sejak dulu juga aku memang begini. Siapa suruh kamu mau jadi pasanganku!", menurut Ieda, sebaiknya tak usah kawin saja. "Yang namanya perkawinan itu membutuhkan penyesuaian. Masing-masing pihak harus berusaha untuk saling menyesuaikan. Jangan cuma maunya membawa caranya sendiri," tuturnya.

Tentunya pihak yang lain harus memberi kesempatan kepada pasangannya untuk berubah. Jangan malah menuntut agar pasangannya berubah dalam sekejap, karena tak ada orang yang bisa berubah dalam satu waktu. "Jadi, bicarakanlah berdua dan buatlah kesepakatan bersama." Misalnya, "Oke, kalau aku mulai ngomong keras atau teriak-teriak, kamu ingatkan." Si pasangan pun, "Oke, jadi kalau aku kasih isyarat telunjuk di bibir berarti kamu harus mulai memelankan omongan kamu, ya. Dan kamu tidak boleh marah karenanya." Nah, hasilnya akan enak bukan?

Cari Pihak Ketiga

Bila konflik dapat diselesaikan dengan baik, lanjut Ieda, hubungan suami-istri akan bertambah dekat. "Timbul wawasan baru pada salah satu pihak bahwa pasangannya, 'Oh, begitu, toh, kamu itu.' Ia jadi lebih mengenal pasangannya sehingga membuang prasangka-prasangka yang ada." Tapi kalau tak terselesaikan, apalagi kedua-duanya ngotot dengan maunya sendiri, maka akan merusak perkawinan.

Selain itu, masing-masing pihak juga harus introspeksi diri agar konflik tak terus-menerus terjadi pada kasus yang sama. Dari sini bisa diketahui, apakah selagi konflik terjadi, kita memberikan kontribusi untuk mendekatkan atau malah merusak. Kalau kontribusinya merusak, ya, nggak heran jika konfliknya mengenai yang itu-itu lagi.

Jadi, tandas Ieda, bila ada konflik, "Anda harus lihat, mengapa konflik itu bisa terjadi? Pahami latar belakangnya, kemudian tarik ke depan, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi konflik itu? Anda mau ngotot terus atau diselesaikan."

Bila ternyata konflik tersebut tak bisa diselesaikan berdua, saran Ieda, carilah pihak ketiga untuk mendapatkan masukan. "Lebih baik konselor perkawinan. Selain profesional, ia juga tak ada ikatan emosional apa-apa." Lagipula, dengan menghubungi konselor perkawinan, disamping dapat membantu menyelesaikan konflik, juga dapat membantu untuk mengembangkan kemampuan kita dalam me-manage konflik.

Penulis : Indah Mulatsih


Print
Email

Sunday, June 8, 2008

Bila Rasaku Ini Rasamu

Akhirmya band favoritku ngeluarin hits terbarunya!! Well, seperti biasa lagunya dalem..... Hiks... Sebagai fans (ceileeee..) aku naro lirik terbaru mereka disini.. This song called:

Bila Rasa Ini Rasamu

Aku memang terlanjur mencintaimu
Dan tak pernah ku sesali itu
Seluruh jiwa rela ku serahkan
Mengenang janji setiaku

Kumohon jangan jadikan semua ini
Alasan kau menyakitiku
Meskipun cintamu tak hanya untukku
Tapi cobalah sejenak mengerti

Reff:
Bila rasaku ini rasamu
Sanggupkah engkau menahan sakitnya
Terkhianati cinta yang kau jaga

Coba bayangkan kembali
Betapa hancurnya hati ini kasih
Semua telah terjadi

Back to Reff:

Aku memang terlanjur mencintaimu

Thursday, June 5, 2008

Buat Mama...

Mah.. Ini aku tulis buat seseorang yang biasa aku panggil mama.. Mungkin orang lain manggil bunda, mami, mom, or laen laen..
Aku cuma pengen bilang... dan nanya.. Boleh gak sih Aku punya keinginan sendiri?? Umurku udah 25 mah... Mama pasti tahu yang aku maksud.. Bolehkah aku memilih sendiri perempuanku? Pendamping hidupku? Mah... aku yakin dengan pilihanku itu gak akan mengurangi sedikiiiiitt pun rasa cinta aku pada mama....Aku gak mau dicap anak durhaka.. Aku hanya berebda pendapat.. Itu saja... Bolehkah??

How to make your children listen

How to make your children listen
Wonder how to make you children listen to you? Tips to make them hear you again, including positive reinforcement, planning ahead, and effective discipline.
Sponsored Links



Getting your children to listen is no easy task, but it is one that can be mastered with time and patience. The miracle of a listening child who does exactly what you want won’t happen overnight, but by using the following tips, it may happen sooner than later.


Preventing problems

· Try and see the problem from your children’s point of view. For example, you keep telling your children to clean their rooms, but they won’t do it. Is it because it’s not “cool” to have clean rooms? Will having clean rooms make it harder to find things? How did you feel about cleaning your room when you were a child? By understanding their perspective, you may be that much closer to a solution.


· Ask your children why they’re not doing what you want them to do. Sometimes they may just answer “because we don’t want to,” but they also may have a good reason for not doing the task, such as “We need to finish our homework first,” or “Steve is coming over, and we want to make snacks for us.”

· Phrase requests politely. Instead of saying, “Clean your room now!,” say, “Please have your room cleaned by 6 p.m. tonight,” or “When you finish with what you’re doing now, please clean your room,” or “You can clean your room now, or in 20 minutes. It’s up to you.”

· Work with your children for solutions to problems. For example, if your child always leaves his dirty clothes on the floor, perhaps you could put the clothes hamper in a more accessible place.

· Rehearse situations. For example, if your children have trouble getting up on time for school, tell them what they need to do each morning when they wake up, and then rehearse the day before. If your children don’t wake up on time, enter their room, and say, “It’s 7:30 a.m. What do you need to be doing now?”

· Don’t take responsibility for your children’s actions. If they have trouble waking up, but you continue to coax them to get out of bed, you both have lost, because the children know you won’t let them be late for school. Tell them you will call them twice, and then do it. Refuse to write them an excuse note if they are late for school.

· Avoid ultimatums. They perpetuate power struggles, and make both parties feel resentful. Instead, emphasize the positive aspects of a situation, such as telling your children how great they are going to feel when they finish a major project for school.


Discipline

· Speak calmly and reasonably when asking your children to do things. If you yell, they will yell right back.

· Discipline your children in private, not in front of their friends, because that will embarrass everyone, and build resentment from your children to you.

· Follow through with discipline. For example, if you tell your children not to leave their dirty clothes on the floor, and they do anyway, don’t wash any clothes that are not in the clothes hamper. Don’t back down, even if your children have to wear dirty clothes a few times.


Positive reinforcement

· Have faith in your children. For example, if they want help with their homework, offer suggestions as to where they can find the information themselves. Tell them you have confidence in their ability to do the work.

· Recognize excellence. When your children listen to you and do what you ask promptly, praise them and tell them how much you appreciate their actions. Also make sure your children hear you say good things about them to your spouse, friends and other adults.


Getting children to listen can be a long, tough process. Children can also be expected to test you once in a while, even if you have the best discipline. Be brief and calm when this happens, and remember that the situation will probably improve eventually. Remember that the final reward will be worth it; you’ll have well-behaved, responsible children who listen to adults.

Friday, May 30, 2008

TIPS UNTUK BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK ANDA

Kadang kadang aku suka ngerasa.. yaaa.... Aku sadar nggak ada orang yang sempurna.. Kadang aku ngerasa suka gak didengar pendapat ku.. Bukan berarti ini sebagai bentuk protes, tapi aku harap artikel ini cukup membantu para orang tua untuk mau sedikit saja mendengarkan anak anaknya..


TIPS UNTUK BERKOMUNIKASI DENGAN ANAK ANDA


Komunikasi yang efektif antara orangtua dan anak tidaklah selalu mudah. Kedua belah pihak memiliki
gaya komunikasi dan respon yang berbeda dalam percakapan. Saat yang tepat dan suasana turut menentukan
keberhasilan komunikasi. Sayangnya, Saat yang tepat dan suasana hati terkadang tidak muncul secara
bersamaan. Para orangtua harus memilih saat untuk berbicara pada Anak Anda dengan cara yang perlahan dan
tidak tergesa - gesa.


Tips berikut mungkin dapat membantu :


1. MENDENGARKAN
* Memperhatikan seksama apa yang sedang diceritakannya
* Jangan memotong pembicaraannya
* Jangan mempersiapkan apa yang hendak dikatakan kemudian pada saat anak sedang berbicara
* Tunda memberi penilian hingga anak Anda selesai bicara dan meminta respon Anda


2. MEMANDANG
* Perhatikan ekspresi wajah anak Anda dan bahasa tubuhnya. Dengan membaca tanda - tanda ini akan membantu
orangtua mengetahui bagaimana perasaan si Anak
* Selama percakapan, Pahami apa yang sedang dikatakan oleh si anak, geser tubuh Anda kedepan bila Anda
dalam posisi duduk, sentuh bahunya bila sedang berjalan atau beri anggukan dan lakukan kontak mata


3.MERESPON
* " Saya sangat prihatin tentang..." atau " Saya mengerti bahwa terkadang sulit ..." merupakan cara merespon
yang lebih baik daripada memulai kalimat dengan " Kamu seharusnya ... " atau " Seandainya saja jadi kamu ..."
atau " Ketika saya seumur kamu, Kami tidak pernah..."
* Walaupun anak Anda mengatakan sesuatu yang Anda tidak suka dengar, Jangan abaikan ucapannya
* Jangan berikan nasehat untuk setiap pernyataan yang ia buat. Lebih baik mendengar dengan cermat apa yang
sedang diutarakan dan berusaha memahami perasaan yang sesungguhnya dibalik kata - kata itu.
* Pastikan bahwa Anda memahami apa yang anak Anda maksudkan. Ulangi ucapannya demi kepastian


4 TIPE POLA ASUH ORANG TUA

Sebagai anak kadang Yo suka yaa terus terang suka mikir "Kenapa sih mama kok galak banget or ngekang banget.. Setelah baca n nyari info Yo nemuin artikel ini.. Mudah mudah bagi ortu n calon ortu bisa menelaah ini dengan seksama. Kalo bisa jadi ortu ideal pasti anak anak akan mengidolakan Anda sebagai orang tua yang hebat. Suatu kebanggaan bukan?

4 TIPE POLA ASUH ORANG TUA

Menjadi orang tua memang tidak gampang. Sekolahnya pun tidak ada. Namun begitu, bagaimanapun Anda bersikap terhadap anak, implementasinya bisa digolongkan dalam 4 tipe pola asuh. Termasuk orang tua bagaimanakah Anda?

Semalam Irma terlambat tidur, karena sepupunya berkunjung dan baru pulang jam 22.00. Hari ini si kecil yang masih duduk di kelas 2 SD itu bangun kesiangan. Akibatnya, ia jadi angot, enggak mau berangkat ke sekolah dengan alasan malu kalau terlambat. Setelah semua penghuni rumah membujuknya, bukannya segera mandi dan bergegas ke sekolah, Irma malah makin menjadi-jadi amukannya.

Kalau Irma adalah anak Anda, bagaimana menyikapinya? Memaksanya untuk segera berangkat sekolah? Membiarkannya tidak masuk sekolah? Atau bagaimana? "Sikap yang diambil orang tua terkait erat dengan pola asuh yang diterapkan pada anaknya," ujar Dra. Clara Istiwidarum Kriswanto, MA, CPBC., dari Jagadnita Consulting.

Pada dasarnya orang tua menginginkan anaknya untuk tumbuh menjadi orang yang matang dan dewasa secara sosial. Sehingga apa pun jenis pengasuhan yang diterapkan orang tua pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai hal tersebut. Namun, kadang orang tua tidak menyadari bahwa pola pengasuhan tertentu dapat membawa dampak merugikan bagi anak. Menurut seorang pakar psikologi, Diana Baumrind, ada empat jenis pola pengasuhan, yaitu otoriter, authoritative, neglectful dan indulgent. Kalau Anda ingin tahu termasuk yang mana, simak penjelasannya berikut.




OTORITER YANG MEMAKSA

BILA orang tua Irma termasuk tipe otoriter, maka dia akan mengambil sikap memaksa tanpa kompromi sama sekali. Pokoknya, sekolah wajib hukumnya dan anak tidak boleh membolos dengan alasan apa pun. Mau terlambat, harus menanggung malu, atau kena hukum dari guru, orang tua tidak mau tahu. Yang penting anak tetap berangkat sekolah yang memang menjadi kewajibannya. "Pokoknya Mama-Papa enggak mau tahu. Kamu harus segera mandi dan berangkat sekolah. Jangan membantah!" Kata-kata seperti itulah yang akan diucapkan oleh orang tua otoritarian bila menghadapi keadaan ini.

Pola otoriter adalah pengasuhan yang kaku, diktator dan memaksa anak untuk selalu mengikuti perintah orang tua tanpa banyak alasan. Dalam pola asuh ini biasa ditemukan penerapan hukuman fisik dan aturan-aturan tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alasan di balik aturan tersebut.

Orang tua mungkin berpendapat bahwa anak memang harus mengikuti aturan yang ditetapkannya. Toh, apa pun peraturan yang ditetapkan orang tua semata-mata demi kebaikan anak. Orang tua tak mau repot-repot berpikir bahwa peraturan yang kaku seperti itu justru akan menimbulkan serangkaian efek.

Pola asuh otoriter biasanya berdampak buruk pada anak, seperti ia merasa tidak bahagia, ketakutan, tidak terlatih untuk berinisiatif, selalu tegang, tidak mampu menyelesaikan masalah (kemampuan problem solving-nya buruk), begitu juga kemampuan komunikasinya yang buruk.




NEGLECTFUL SI CUEK

BILA masalah Irma ini dihadapi oleh orang tua yang mempunyai pola asuh neglectful, maka apa pun yang terjadi, terjadilah tanpa orang tua menaruh peduli sama sekali. Anak mau sekolah terserah, tidak sekolah juga terserah. Apa saja yang ingin dilakukan anak, orang tua membolehkannya. Kalau ia harus berangkat kerja saat itu, ya ia tetap berangkat ke kantor, tanpa peduli anak akan menentukan pilihan yang mana. Dalam bahasa sederhananya tipe ini adalah tipe orang tua yang permisif alias serba membolehkan.

Pola neglectful adalah pola dimana orang tua tidak mau terlibat dan tidak mau pula pusing-pusing memedulikan kehidupan anaknya. Jangan salahkan bila anak menganggap bahwa aspek-aspek lain dalam kehidupan orang tuanya lebih penting daripada keberadaan dirinya. Walaupun tinggal di bawah atap yang sama, bisa jadi orang tua tidak begitu tahu perkembangan anaknya.

Pola asuh seperti ini tentu akan menimbulkan serangkaian dampak buruk. Di antaranya anak akan mempunyai harga diri yang rendah, tidak punya kontrol diri yang baik, kemampuan sosialnya buruk, dan merasa bukan bagian yang penting untuk orang tuanya. Bukan tidak mungkin serangkaian dampak buruk ini akan terbawa sampai ia dewasa. Tidak tertutup kemungkinan pula anak akan melakukan hal yang sama terhadap anaknya kelak. Akibatnya, masalah menyerupai lingkaran setan yang tidak pernah putus.




INDULGENT TIDAK PUNYA POSISI TAWAR

KIRA-KIRA seperti ini yang akan dikatakan orang tua yang tidak punya posisi tawar, "Ya sudah, Irma boleh enggak sekolah. Kamu lagi malas sekolah ya?" Kalau Irma mau menonton televisi saja di rumah, orang tua akan berkata, "Ya sudah, daripada menangis terus, kamu nonton teve saja deh." Begitu seterusnya. Kata-kata seperti itu akan sering diucapkan oleh orang tua yang mempunyai pola asuh indulgent.

Pola indulgent sebetulnya menjadi istilah bagi pola asuh orang tua yang selalu terlibat dalam semua aspek kehidupan anak. Namun di situ tidak ada tuntutan dan kontrol dari orang tua terhadap anak. Mereka cenderung membiarkan anaknya melakukan apa saja sesuai dengan keinginan mereka. Dalam bahasa sederhananya, orang tua akan selalu menuruti keinginan anak, apa pun keinginan tersebut. Bahkan orang tua jadi tidak punya posisi tawar sama sekali di depan anak karena semua keinginannya akan dituruti, tanpa mempertimbangkan apakah itu baik atau buruk bagi si anak," tandas Clara.

Banyak orang tua yang menerapkan pola asuh ini berkilah bahwa sikap yang diambilnya didasari rasa sayangnya terhadap anak. "Cinta saya pada si kecil kan cinta yang tidak bersyarat. Jadi, apa pun yang diminta anak akan saya turuti." Padahal yang namanya cinta, pada siapa pun, termasuk pada anak, tidak identik dengan keharusan menuruti semua keinginannya.

Akibat buruk yang harus diterima anak sehubungan dengan pola asuh orang tua yang seperti ini jelas tidak sedikit. Di antaranya anak jadi sama sekali tidak belajar mengontrol diri. Ia selalu menuntut orang lain untuk menuruti keinginannya tapi tidak berusaha belajar menghormati orang lain. Anak pun cenderung mendominasi orang lain, sehingga punya kesulitan dalam berteman.




AUTHORITATIVE MEMBERIKAN PILIHAN

APAKAH Anda termasuk orang tua yang akan memilih langkah seperti ini? "Jadi Irma maunya gimana? Kalau mau makan es krim dulu, oke Mama kasih waktu 5 menit, tapi setelah itu kamu harus segera mandi dan berangkat sekolah." Anak boleh memilih melakukan apa yang menurutnya baik, tetapi tetap harus ada batasan apa yang seharusnya dilakukan. Pola asuh seperti ini dikategorikan sebagai pola asuh authoritative.

Pola authoritative mendorong anak untuk mandiri, tapi orang tua tetap menetapkan batas dan kontrol. Orang tua biasanya bersikap hangat, dan penuh welas asih kepada anak, bisa menerima alasan dari semua tindakan anak, mendukung tindakan anak yang konstruktif. "Jadi pada kasus anak terlambat sekolah, orang tua tetap mendengarkan dulu apa keinginan anak, dalam hal ini adalah makan es krim dulu. Bisa jadi hal itu dilakukan anak untuk meredakan ketegangannya karena akan terlambat masuk kelas. Tapi setelah itu, orang tua tetap mengarahkan anak untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu tetap harus segera mandi dan kemudian berangkat sekolah," kata Clara.

Anak yang terbiasa dengan pola asuh authoritative akan membawa dampak menguntungkan. Di antaranya anak akan merasa bahagia, mempunyai kontrol diri dan rasa percaya dirinya terpupuk, bisa mengatasi stres, punya keinginan untuk berprestasi dan bisa berkomunikasi baik dengan teman-teman dan orang dewasa.

Dengan adanya dampak positif tersebut, pola asuh authoritative adalah pola asuh yang bisa dijadikan pilihan bagi orang tua. "Beri anak kesempatan bicara tetapi kontrol sepenuhnya tetap di tangan orang tua," tambahnya.




TIPS MENJADI ORANG TUA IDEAL

SEHUBUNGAN dengan pola asuh yang baik, Clara menyarankan beberapa hal berikut yang dapat digunakan orang tua untuk mempererat hubungannya dengan anak.

* Menyediakan waktu untuk anak

Komunikasi yang baik memerlukan waktu yang berkualitas dan ini yang kadang tidak dipikirkan oleh orang tua. Tak sedikit orang tua yang meyakini bahwa yang penting adalah kualitas bukan kuantitas. Padahal dalam hal komunikasi, kuantitas juga diperlukan. Bila orang tua bisa memberikan waktu yang berkualitas bagi anaknya, maka itu berarti ia sudah mengasihi dan memperhatikan anaknya.

* Berkomunikasi secara pribadi

Jangan tunggu sampai anak bermasalah. Setiap kali ada kesempatan, manfaatkan momen tersebut untuk mengajak anak bicara. Bicara di sini tidak sekadar basa-basi menanyakan apa kabarnya hari ini. Akan tetapi sebaiknya orang tua juga bisa menyelami perasaan senang, sedih, marah maupun keluh kesah anak.

* Menghargai anak

Hargai keberadaan anak. Jangan hanya menganggapnya sebagai anak kecil. Kalaupun sedang bicara dengan anak, posisikan dirinya sebagai sosok yang dihargai dan sederajat. Dalam beberapa hal tertentu ada yang lebih diketahui anak ketimbang orang tua. Jadi ada baiknya orang tua pun belajar untuk menghargai dan mendengarkan pendapat anaknya.

* Mengerti anak

Dalam berkomunikasi dengan anak, orang tua sebaiknya berusaha untuk mengerti dunia anak, memandang posisi mereka, mendengarkan apa ceritanya dan apa dalihnya. Mengenali apa yang menjadi suka dan duka, kegemaran, kesulitan, kelebihan, serta kekurangan mereka.

* Menciptakan hubungan yang baik

Hubungan yang erat dapat mempersempit jurang pemisah antara orang tua dan anak. Dengan demikian anak mau bersikap terbuka dengan menceritakan seluruh isi hatinya tanpa ada yang ditutup-tutupi di hadapan orang tua.

* Berikan sentuhan/kedekatan fisik dan kontak mata

Usahakan setiap hari untuk menyentuh, melakukan kontak mata dan kedekatan fisik dengan anak. Anak akan merasakan kasih sayang dan kehangatan orang tua bila ayah atau ibu mau melakukan hal-hal tersebut.

* Dengarkan anak

Orang tua sebaiknya belajar untuk menjadi pendengar aktif bagi anaknya. Dengan demikian anak akan tahu bahwa orang tua mampu memahaminya seperti yang mereka rasakan. Bukan seperti yang dilihat atau disangka orang tuanya. Cara ini akan membuat anak merasa penting dan berharga. Selain itu anak akan belajar untuk mengenali, menerima, dan mengerti perasaan mereka sendiri, serta menemukan cara untuk mengatasi masalahnya.

MENCIPTAKAN CINTA KASIH DALAM DIRI ANAK

MENCIPTAKAN CINTA KASIH DALAM DIRI ANAK

When i surf through the net i found this articles are quite interesting... I hope you can read and i hope hope it will quite helpfull too..

Dr. Eddy Fances / Indonesia Media

Salah satu kebutuhan dasar pada anak-anak adalah cinta kasih. Ketika seorang anak mendapatkan dirinya dicintai, kelak ia akan berkembang menjadi anak yang tahu mencintai pula. Semua orang tua yang normal menginginkan anaknya berkembang menjadi anak yang tahu mencintai orang tua, mencintai dirinya, dan mencintai orang lain. Sesungguhnya orang yang mengenal apa itu dicintai dan mencintai adalah kebahagiaan hidup yang sejati.



1. Perlihatkan Cinta Kasih Antara Suami dan Istri.

Hampir semua karakter anak-anak dipelajari dari meniru orang tua mereka. Jika anak-anak sering melihat orang tuanya bertengkar, marah-marah, saling membenci, saling menghina dan saling memusuhi, secara tidak sadar otak dan hatinya akan merekam semua peristiwa yang menyakitkan tersebut. Lama kelamaan anak-anak akan bertumbuh menjadi anak yang juga berwatak keras, pembenci, dendam, suka bertengkar, bermusuhan, dan tidak tahu mengasihi.

Sebaliknya anak-anak yang melihat kedua orang tuanya saling mencintai, saling menghargai, dan saling menghormati akan membuat mereka belajar mengembangkan watak cinta kasih, tahu menghargai dan menghormati orang lain. Sebab itu, suami dan istri harus sepakat untuk memperlihatkan wujud-wujud cinta kasih yang konkret, yang bisa ditiru dan dipelajari oleh anak-anak secara normal dan sehat.


2. Menerima Anak Sebagaimana Adanya.

Semua anak adalah unik. Artinya tidak dua orang anak yang sama 100% walaupun mereka kembar. Sebab itu orang tua harus mampu mengenal dan menemukan keunikan anaknya masing-masing. Selanjutnya orang tua harus menerima keberadaan anaknya secara utuh tanpa harus membanding-bandingkan dengan anak yang lain. Maka, anak tersebut akan bertumbuh menjadi anak yang percaya diri, tahu menghargai diri, dan tahu menghargai orang lain.

Sebaliknya jika orang tua menuntut anaknya menjadi seperti orang lain, mis: meniru kakaknya, atau menjadi seperti ayah, atau ibu, atau “seseorang” lain, anak tersebut akan merasakan “tekanan” pada dirinya yang pada akhirnya mengakibatkan frustrasi, depresi, atau kebencian terhadap orang tua. Alhasil, anaknya tidak merasakan dicintai, dan tidak akan pernah belajar mencintai pula.


3. Menghargai Anak Melebihi Materi.

Ada sebagian orang tua yang begitu mementingkan materi (uang, harta benda) sehingga tidak pernah ada waktu yang disediakan bagi anak; atau bahkan ada yang tidak sungkan-sungkan mempertaruhkan nilai moral dan harga diri demi sejumlah uang. Misalnya: berdusta, berjudi, melanggar hukum, atau melakukan kejahatan lainnya. Hal-hal ini akan membuat anak memiliki konsep yang salah terhadap nilai seorang manusia. Dia akn bertumbuh menjadi seorang yang lebih menghargai materi daripada harga dirinya, atau harga diri orang lain. Materi baginya segala-galanya seperti yang diterima dan dialami dalam keluarganya.

Setelah dia dewasa, dia akan lebih mencintai uang daripada mencintai orang tua; lebih mementingkan uang daripada harga dirinya atau nyawanya; dan tidak pernah akan belajar menghargai manusia lebih daripada materi dan harta benda lainnya. Ini sangat berbahaya.


4. Melakukan Tindakan Kasih yang Nyata.

Cinta kasih bukanlah kata benda, melainkan kata kerja. Dengan kata lain, cinta kasih haruslah dipraktikkan dalam perbuatan-perbuatan baik yang nyata. Kasih tidak ada gunanya jika hanya dibicarakan, didiskusikan, dan diperdebatkan. Orang tua yang ingin anaknya kelak memiliki watak cinta kasih, hendaklah mulai menanamkan perbuatan-perbuatan baik kepada anak-anaknya sejak umur dini. Untuk itu seringkali dibutuhkan kerelaan untuk berkorban bagi anak-anak; bukan saja secara materi, yang lebih penting adalah waktu, perhatian, tenaga, dan bantuan-bantuan lainnya.

Anak yang mengalami tindakan-tindakan kasih dari orang tuanya akan bertumbuh menjadi seorang yang berjiwa besar dan berhati lembut dan berwatak rela untuk menolong siapa saja yang membutuhkan. Kelak, dia akan sangat berterima kasih kepada orang tuanya, dan akan sangat mencintai mereka, serta menjadi berkat bagi banyak orang lain.


5. Suka Mendengarkan Anak.

Pada umumnya orang tua cenderung membangun komunikasi satu arah dengan anaknya yaitu hanya memberikan nasihat, menggurui, dan menuntut sang anak mendengarkan, taat, dan mendengarkan. Anak tidak diijinkan banyak bicara apalagi membantah. Akibatnya tidak sedikit anak yang “tertekan”, “main pintu belakang, diam-diam memberontak atau terang-terangan menunjukkan kebencian terhadap orang tuanya, karena mereka merasakan haknya untuk berbicara dan didengar telah direbut oleh orang tuanya.

Jika orang tua ingin anaknya menciptakan pertumbuhan yang normal dan sehat pada anak khususnya memiliki watak dan pribadi yang tahu mencintai dan menghargai orang lain, maka adalah mutlak orang tua harus menghargai hak anak untuk berbicara dan didengarkan. Memang tidak mudah. Namun tidak berarti mustahil bukan? Orang tua perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan anak-anaknya berbicara, mengeluh, menyampaikan ketidak-setujuan, mengajukan pendapatnya, bahkan menyatakan protesnya. Janganlah mendengarkan sambil membaca Koran, menonton TV, atau mengerjakan sesuatu yang lain. Belajarlah menghargai mereka dengan mendengarkan secara serius dan penuh perhatian serta memandang matanya. Setelah itu barulah orang tua mengarahkan anaknya ke jalan yang benar melaluim komunikasi dua arah. Sesungguhnya, komunikasi itu bukan saja berbicara, tetapi mendengarkan. Ya. Mendengarkan.


6. Percaya Kepada Anak.

Anak yang dipercayai perkataannya dan perbuatannya oleh orang tuanya akan merasakan bahwa dirinya diakui, dihargai, dan dicintai. Sebaliknya anak yang sering dicurigai–biasanya karena pernah berdusta atau melakukan kesalahan – akan merasakan dirinya tidak berguna lagi. Walaupun ia sudah mencoba berubah dan melakukan hal-hal yang benar, namun orang tua tidak pernah sungguh-sungguh memaafkannya dan mempercayainya. Akibatnya ia akan merasa tidak berharga, najis, tidak dimiliki, dan ia akan nekad untuk melakukan hal-hal yang lebih jahat lagi. Mungkin mottonya: “Toh, sudah kepalang basah, dan tidak pernah dipercaya lagi, untuk apa saya berbuat baik dan mengasihi mereka? Sekalian saja saya rusak!”

Sebaliknya jika orang tua mengenal ketidak-sempurnaan manusia, ia akan belajar memaafkan kesalahan, menerima kembali anak secara utuh, dan mempercayai anaknya sepenuhnya. Hal ini akan membuat anak merasakan dicintai, diterima, dan dipulihkan dari segala kelemahan dan kesalahannya. Akibatnya segala kepahitan, atau kebencian, atau luka-luka bathin akan sembuh dan digantikan dengan sukacita, damai, rasa aman, penuh semangat, dan percaya diri. Semua ini akan membangun watak cinta kasih yang sangat mulia.


7. Membagi Pengalaman.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Namun jarang sekali orang tua yang mau membagi-bagikan pengalaman pribadi mereka kepada anak-anaknya. Mungkin ada pengalaman yang kurang baik, menyakitkan, atau kurang membangun. Namun sesungguhnya melalui pembagian pengalaman inilah anak-anak akan belajar fakta-fakta hidup yang sebenarnya. Selain itu anak akan diajar untuk terbuka karena orang tua berani untuk membuka dirinya.

Keterbukaan adalah salah satu syarat mutlak untuk menciptakan watak cinta kasih. Karena kasih itu jujur dan terbuka, berani mengaku salah, dan rela memaafkan. Pengalaman yang pahit ataupun manis, berhasil ataupun gagal, baik atau burruk, memiliki pelajaran yang sama berharganya bagi anak-anak. Mereka akan merasakan dilibatkan dalam kehidupan yang sesungguhnya, dihargai, dicintai. Selanjutnya, mereka akan tahu menghargai dan mencintai kehidupan ini, serta mengasihi orang tuanya sebagaimana adanya, juga mengasihi sesamanya.